LONDON, KOMPAS.com - Aksi kekerasan yang dilakukan pasukan keamanan Iran dalam demonstrasi kelompok oposisi Minggu dan Senin menuai kritikan pedas dari negara-negara Barat. Uni Eropa mengecam penggunaan apa yang mereka sebut sebagai "kekuatan brutal" untuk melawan aksi itu.
Seperti diwartakan situs kelompok oposisi, pasukan keamanan Iran pada hari Senin melanjutkan tindakan kerasnya kepada pro-Mousavi. Mereka menangkap lebih dari selusin politisi reformis dan tokoh-tokoh oposisi sehari setelah sedikitnya delapan orang tewas dalam bentrokan di Teheran.
Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband memuji keberanian besar para pendukung oposisi dan mengatakan, kematian tersebut akan menjadi pengingat bagaimana rezim Iran menghadapi protes. Dia juga mencatat bahwa tindakan keras itu datang selama festival tersuci umat Islam Syiah, yakni Hari Asyura. "Oleh karena itu, ini sangat mengganggu mendengar laporan tentang kurangnya pengendalian oleh aparat keamanan," katanya.
Miliband menyerukan pemerintah Iran untuk menghormati hak-hak warga negaranya. Hal serupa juga dituntut Uni Eropa dan negara-negara Barat lainnya. "Penahanan sewenang-wenang para demonstran merupakan pelanggaran berat hak asasi manusia," kata presiden Uni Eropa dalam sebuah pernyataannya dari Stockholm.
Seperti diketahui, ribuan pengunjuk rasa hari Minggu turun ke jalan-jalan di Teheran dan kota-kota besar lainnya untuk memprotes terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad dalam pilpres Juni 12 lalu. Pihak oposisi menggugat hasil resmi pemungutan suara.
Polisi menembakkan gas air mata dan memukuli para demonstran dengan tongkat dalam konfrontasi paling berdarah setelah pemungutan suara. Pihak berwenang mengatakan 36 orang tewas dalam kejadian itu.
Washington yang sejak lama sewot dengan sepatk terjang Iran pun tak luput memberikan kritikan. "Harapan dan sejarah berada di sisi orang-orang yang mencari kedamaian. Itu adalah hak-hak universal mereka, dan begitu pula Amerika Serikat," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional, Mike Hammer.
Kanselir Jerman Angela Merkel menambahkan, hak untuk kebebasan berekspresi melalui demonstrasi damai tidak boleh dibatasi atau ditekan dengan kekerasan. "Saya mengutuk bentrokan baru-baru ini di Iran di mana orang meninggal karena tindakan yang tidak dapat diterima aparat keamanan," katanya.
Prancis mengingatkan, tindakan pemerintah Teheran bisa mengarah ke mana-mana. Mereka mendesak perlunya negosiasi penyelesaian politik. "Kami mengutuk penangkapan orang-orang itu dengan sewenang-wenang dan kekerasan yang dilakukan terhadap pengunjuk rasa biasa," jurubicara kementerian luar negeri Prancis, Bernard Valero.
Pemerintah Italia menyerukan kepada penguasa Iran untuk mengakhiri lingkaran kekerasan dan mencari penyelesaian politik dengan dialog demokratis. Senada, Menteri Luar Negeri Austria Michael Spindelegger mengatakan, Iran harus tahu bahwa masyarakat internasional terus mengawasi tindakan aparat keamanan mereka.
"Mereka telah melakukan tindakan brutal dengan menyerang warga negara yang berusaha melaksanakan hak-hak politik dasar. Hal itu tidak dapat diterima," tandasnya.

