TEHERAN, KOMPAS.com - Pasukan keamanan Iran menembak mati beberapa demonstran yang melakukan unjuk rasa antipemerintah di Teheran, termasuk keponakan pemimpin oposisi, Mir Hossein Mousavi, Minggu.
Saksi mata mengatakan, puluhan pengunjuk rasa terluka dan beberapa ditangkap selama bentrokan
paling berdarah antara demonstran dan aparat keamanan sejak puncak kerusuhan di Juni setelah pemilihan presiden yang dipersengketakan.
Situs Rahesabz.net milik kelompok oposisi menyatakan, empat pengunjuk rasa ditembak mati oleh aparat keamanan di pusat kota Teheran, termasuk keponakan Mousavi yang meninggal di rumah sakit setelah ditembak di bagian dada.
Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa beberapa orang tewas dalam bentrokan di Teheran antara para pendukung oposisi - dan kelompok propemerintah di jalanan saat peringatan Asyura berlangsung. "Dalam bentrokan ini, beberapa orang dari kedua belah pihak tewas dan beberapa orang terluka," katanya.
Polisi sebelumnya telah membantah bahwa ada korban tewas dalam bentrokan itu. Namun aksi ini telah memicu kecaman dunia internasional. Departemen Luar Negeri Perancis mengutuk aksi kekerasan polisi tersebut terhadap para pemrotes. Mereka menyerukan adanya penyelesaian secara politik.
Sejumlah saksi mata mengatakan, dalam bentrokan tersebut, polisi yang pertama kali menggunakan pentungan dan gas air mata. Ketika hal ini gagal untuk membubarkan kerumunan orang banyak, mereka melepaskan tembakan.
Parlemannews menyatakan, Seyed Ali Mousavi (35) yang juga keponakan Mousavi, ditembak di dekat jantungnya. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit Ibnusina.
Situs Rahesabz.net juga melaporkan, empat orang tewas namun mereka belum diketahui identitasnya.
AFP tidak dapat memverifikasi berbagai laporan itu karena media asing dilarang meliput demonstrasi kelompok oposisi.
Saksi mata mengatakan, bahwa para pengunjuk rasa marah terhadap aparat keamanan. Mereka melempari polisi dengan batu. Mereka memukuli beberapa polisi dan membakar truk. Banyak pengunjuk rasa, termasuk para perempuan, meneriakkan, "Matilah diktator."
Mereka juga meneriakkan "Ya Husain, Mir Hossein" untuk mendukung Mousavi. Pengunjuk rasa terlihat memukul dada mereka dalam ritual Asyura serta meneriakkan slogan-slogan antipemerintah.

