Kegundahan Selimuti Suasana Natal di Banyak Negara - Kompas.com

Kegundahan Selimuti Suasana Natal di Banyak Negara

Kompas.com - 25/12/2009, 03:29 WIB

BETLEHEM, KOMPAS.com — Pemimpin Gereja Katolik Roma di Tanah Suci, Kamis, menyampaikan harapan Natal bagi perdamaian Timur Tengah dan berdoa agar Palestina tidak lagi dibatasi oleh pagar pembatas Israel.

Tidak hanya di Palestina atau Timur Tengah, kegundahan, dan bukannya keceriaan, melingkupi suasana Natal di banyak tempat di dunia. Ribuan keluarga di Filipina merayakan Natal di tempat penampungan, sementara Gunung Mayon memuntahkan laharnya dan mengancam tempat tinggal mereka. Di Pakistan, tidak ada dekorasi yang memeriahkan tenda tempat penampungan umat Kristen yang menjadi tunawisma akibat kekerasan terburuk yang menimpa kaum minoritas negeri itu tahun ini.

Kekerasan sektarian juga mendera orang Kristen Irak. Di Baghdad, umat Kristen merayakan misa Malam Natal siang hari karena alasan keamanan. Natal tahun ini di negara itu bertabrakan dengan upacara berduka umat Muslim Syiah sebagai kaum mayoritas. Orang Kristen Irak harus membatasi perayaan melebihi tahun-tahun sebelumnya. Kamis kemarin, pengeboman telah menewaskan sedikitnya 26 orang di seluruh penjuru Irak. Kebanyakan korban adalah peziarah Syiah yang akan mengambil bagian dalam upacara suci-berduka, hari raya Ashoura. Ketakutan muncul setelah kekerasan meningkat mendekati hari raya itu.

Uskup Katolik Ritus Latin di Jerusalem, Fouad Twal, memulai perayaan Natal dengan melakukan prosesi tahunan dari Jerusalem ke Bethlehem di Tepi Barat, tempat yang secara tradisional dipercaya sebagai lokasi kelahiran Yesus. "Harapan yang paling kita inginkan, yang paling kita harapkan, belum tiba. Kita menginginkan perdamaian," kata Twal setelah tiba di Bethlehem.

Twal dan lusinan kendaraan rombongannya memasuki wilayah Palestina setelah melewati gerbang besi masif yang menjadi pemisah antara Israel dan Palestina di Tepi Barat, yang dijaga ketat tentara Israel. Pembatas masif dan kehadiran tentara Israel bersenjata berat itu merupakan sebuah pengingat akan adanya bahaya laten dari friksi dan kebencian yang dapat mengganggu upaya perdamaian. "Kami menginginkan kebebasan bergerak, kami tidak menginginkan dinding pemisah," kata Twal. "Kami berharap segala sesuatunya menjadi lebih normal," ungkapnya lagi.

Israel mulai membangun pembatas berupa menara beton dan pagar yang dialiri listrik setelah munculnya gelombang bom bunuh diri dari Palestina. Namun, orang Palestina melihatnya sebagai perampasan tanah karena rute yang diambil masuk ke dalam wilayah Tepi Barat dan menjadikan tanah yang berada di dalam pagar sebagai "milik" Israel.

Sementara itu, ribuan orang memenuhi Manger Square (Lapangan Palungan). Turis dari seluruh penjuru dunia, penjaja makanan, prajurit Palestina yang mengenakan kilt dan memainkan bagpipes, sebagaimana yang mereka lakukan setiap Natal, memenuhi lapangan itu. Balon-balon beraneka warna memberikan sentuhan keceriaan pada perayaan tersebut.

Namun, tidak ada keceriaan di tenda pengungsian 220 mil di barat daya Islamabad, Pakistan, yang didirikan untuk melindungi orang Kristen yang menjadi tunawisma akibat penjarahan dan pembakaran yang terjadi Agustus lalu. Orang-orang Kristen menyatakan, mereka menerima ancaman lewat SMS dengan pesan akan mendapat "hadiah natal istimewa." Mereka takut, tenda-tenda mereka akan dibakar atau saat kebaktian gereja mereka akan dibom. "Tahun lalu, saya merayakan Natal yang indah," kata Irfan Masih sambil membuai anaknya yang terkecil di antara pelindung dari kanvas dan lubang-lubang terbuka di kamp penampungan.

Di daerah gunung berapi di Filipina, pekerja pemerintah dan relawan mencoba mengevakuasi 47.000 penduduk dari rumah mereka. Para relawan berupaya membuat mereka betah di tempat penampungan dengan permainan, film, dan konser. Paket berupa mi, apel, jeruk, dan kornet daging sapi dibagikan di tempat penampungan untuk makan malam. Anak-anak di salah satu tempat penampungan dengan sukacita berbaris untuk mendapat es krim. Namun, evakuasi ini sungguh berat dirasakan dalam masa Natal di negara Katolik itu.

Kamis malam, Paus Benediktus XVI merayakan misa Malam Natal di Basilika Santo Petrus dua jam lebih awal dari biasanya agar tidak terlalu larut untuk Paus yang kini berusia 82 tahun. Paus Benediktus sesuai rencana akan memulai misa Malam Natal menjelang tengah malam, dengan menyalakan lilin di sebuah jendela.

Pada hari Natal, Paus akan menyampaikan pesan Natal dari balkon basilika. Pada hari Minggu, Paus berencana untuk mengadakan makan siang bersama para gelandangan di sebuah dapur sup di dekat Vatikan.

Editoraegi

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM