Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 21:18 WIB
Ben Bernanke, Person of the Year 2009 "Time"
Arthur | Edj | Kamis, 17 Desember 2009 | 19:34 WIB
|
Share:

WASHINGTON, KOMPAS.com — Penobatan Ketua Bank Sentral Amerika Ben Bernanke sebagai Person of the Year 2009 majalah Time, Rabu (16/12/2009) waktu setempat, menjadi poin positif untuk menaikkan posisi politisnya dalam bertahan dari banyak kritikan dan proposal yang bisa membatasi otoritas The Federal Reserve.

Dengan dipilihnya Ben Bernanke sebagai Person of the Year, ia masuk dalam jajaran tokoh sekaliber Presiden AS Barack Obama, Paus Yohanes Paulus II, dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dulu terpilih oleh majalah Time.

Bernanke yang akan habis masa jabatannya sebagai Ketua The Fed pada 31 Januari 2009 itu kembali dicalonkan untuk memimpin bank sentral AS tersebut untuk masa jabatan yang kedua kalinya.

Senat sedang mempertimbangkan pengangkatan ulang Bernanke untuk putaran kedua, dan kemungkinan besar memang ia akan terpilih lagi. Namun di lain pihak, serangan kritik dari publik dan kongres terhadap Bank Sentral belum pernah setinggi ini selama puluhan tahun. Bank Sentral kian dikritik setelah banyaknya talangan dana untuk Wall Street.

Namun, di tengah krisis finansial, Bernanke yang low-profile dan kalem tampil sebagai penyelamat. "Ben adalah orang yang mencegah kita (Amerika) jatuh dari tepian jurang dan jatuh dalam kegelapan," puji Lyle Gramley, mantan Gubernur Bank Sentral yang kini menjadi penasihat ekonomi senior di Sekuritas Soleil. Ia berharap, posisi politis Bernanke terbantu dengan terpilihnya dia sebagai Person of the Year 2009.

"Bernanke... paham bahwa keadaan ekonomi pasti jauh lebih parah bila Bank Sentral tak mengambil langkah ekstrem untuk menghentikan kepanikan," tambahnya.

Menurut Time, dalam artikel tentang Bernanke, salah satu langkah ekstrem yang dimaksud adalah penurunan suku bunga acuan hingga mendekati nol, tahun lalu. Dengan kepemimpinan yang kreatif, Bernanke tengah menetapkan jalur pemulihan ekonomi Amerika, dan pada saat bersamaan juga mengembangkan pengaruh Bank Sentral.

Namun, pihak oposisi juga tak mau mengabaikan bahwa tingkat pengangguran tahun ini, selama masa tugas Bernanke, telah mencapai 10 persen.

Maka dari itu, Kongres kini juga mempertimbangkan proposal yang bisa membatasi kebebasan Bank Sentral, otoritas pengawasannya pada bank-bank besar, dan juga supaya audit bisa diterapkan pada tiap keputusannya terhadap suku bunga acuan.

Gramley berpendapat bahwa, bila dibandingkan masa resesi berat ketika Paul Volcker menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral, tingkat kekesalan publik terhadap Bank Sentral kini lebih tinggi. "(Karena) dulu khalayak umum, walaupun kesal, mengerti bahwa kenaikan suku bunga terjadi karena adanya masalah inflasi yang buruk. Namun, publik kini tak mengerti mengapa Bank Sentral sampai harus menalangi Bear Stearns atau AIG."

Sumber :
REUTERS