Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 23:56 WIB
Polisi dan Pakar Militer Teliti Senjata
| jimbon | Rabu, 16 Desember 2009 | 08:17 WIB
|
Share:

BANGKOK, KOMPAS.com - Otoritas keamanan terkait di Thailand, Selasa (15/12), terfokus pada pemeriksaan 35 ton senjata yang diangkut pesawat kargo Ilyushin II-76 dari Korea Utara. Lebih dari 100 polisi dan juga pakar militer dikerahkan untuk menganalisis lebih rinci terhadap 145 kotak dan peti yang disita dari pesawat itu.

Dari dalam kotak dan peti itu, polisi menyita 35 ton senjata dari berbagai jenis. Pesawat mendarat darurat di Bandara Don Muang, Bangkok, Sabtu lalu, karena krisis bahan bakar. Pesawat milik Rusia yang terdaftar di Georgia (Rusia) itu terbang dari Korea Utara dengan diawaki lima orang, yakni 4 warga Kazakhstan dan 1 warga Belarus.

Keempat warga Kazakhstan itu adalah Vitality Shumkov (54), Abdullayev Viktor (58), Alexandr Zrybner (53), dan Illyas Issakov (53) serta seorang warga Belarus, yakni pilot Mikhai Petukhou (54). Meski terus diinspeksi polisi dan tentara, mereka tidak mengungkapkan dengan jelas tujuan akhir penerbangan. Diduga kuat, tujuannya adalah Sri Lanka.

Mereka hanya menyebutkan, pesawat terpaksa mendarat darurat di Bangkok karena krisis bahan bakar. Setelah polisi menyita bahan peledak, granat roket, peluncur rudal dan berbagai jenis senjata, kelima awak pesawat kargo itu pun ditahan di penjara Klong Prem Tengah.

Penjara yang sama juga menjadi rumah tahanan bagi Viktor Bout, pedagang senjata dari Rusia, yang dijuluki ”Pedagang Penebar Maut” (Merchant of Death) atas tuduhan memasok senjata kepada diktator dan panglima perang di seluruh dunia. AS berusaha mengekstradisi Bout, yang ditahan sejak Maret 2008 karena terkait aksi teror di New York.

Adapun kelima awak pesawat kargo Rusia itu didakwa memiliki senjata secara ilegal. Dakwaan tersebut mengancam mereka 10 tahun penjara, tetapi tuduhan dan hukuman dapat berubah, bisa lebih ringan atau malah semakin berat, tergantung dari hasil inspeksi yang dilakukan para pakar militer dan polisi.

Kepala Tim Inspeksi Polisi Kolonel Supisarn Bhakdinarinath mengatakan, pihaknya sedang meneliti dan mengidentifikasi jenis-jenis senjata yang disita itu. Dia mengatakan, persenjataan yang ada tampaknya dikendalikan oleh sebuah sistem keamanan tinggi dan diterbangkan menuju pangkalan udara dekat Provinsi Nakhon Sawan.

”Namun, kami sedang mengidentifikasi pihak mana saja yang terlibat dan sistem persenjataannya, termasuk menentukan jenis-jenis senjata, sumber produksi, dan sasaran potensialnya. Sejauh mana tingkat bahaya senjata itu terhadap manusia dan tuntutan hukumnya,” ungkap Bhakdinarinath, Selasa.

Korea Utara pun menjadi sorotan internasional terkait kasus ini. (AP/REUTERS/CAL)

Sumber :
Kompas Cetak