KOPENHAGEN, KOMPAS.com — Menjadi tuan rumah Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim merupakan kesempatan besar bagi Denmark. Keseriusan tampak disiapkan dengan matang oleh pemerintahan di bawah kepemimpinan Lars Lakke Rasmussen itu. Di setiap sudut kota Kopenhagen, tempat konferensi berlangsung, tak satu pun sudut yang lepas dari kata "climate", "green" atau kata-kata lainnya yang berkaitan dengan ramah lingkungan.
Segala infrastruktur telah disiapkan untuk memberikan kenyamanan bagi puluhan ribu tamu yang hadir di kota berpenduduk sekitar 5 juta jiwa ini. Masyarakat setempat juga turut merasakan kesibukannya. Meski tak semuanya ikut terlibat. Mygine, warga Kopenhagen, mengaku turut merasakan kesibukan kotanya dalam sepekan terakhir. Event besar seperti COP15, bagi warga awam seperti Mygine, dinilai terlalu banyak menghamburkan uang. Maka dari itu, di tengah kesibukan pemerintah mengurus tamu-tamu dari segala penjuru dunia, Mygine dan beberapa rekannya menginisiasi kegiatan berbagi kado Natal pada Sabtu (12/12/2009).
Bersama seorang climate champions British Council asal Filipina, Baby Ruth, saya turut dalam rombongan yang juga melibatkan sejumlah au pair (pekerja rumah tangga) asal Filipina. Kegiatan sosial ini merupakan kegiatan tahunan menjelang Natal. Puluhan kado dibagikan kepada kaum miskin, pengangguran, pekerja seks komersial, dan para lanjut usia.
"Kami tahu, Kopenhagen tengah sibuk dan larut dengan COP15. Tapi biarkan saja mereka sibuk, kami tetap melakukan aktivitas. Kalau semua lupa, kasihan saudara-saudara yang membutuhkan," ujar Mygine, dalam perjalanan dari Dybbolsbro menuju kawasan Central Station, Kopenhagen.
Mygine bersama rekan-rekannya menyiapkan kado natal bagi pria dan wanita. Apa saja isinya? Ternyata cukup beragam. Natal yang bertepatan dengan musim dingin membuat mereka memilih kado perlengkapan musim dingin, seperti syal, topi, sarung tangan, dan baju hangat. Tak lupa, di dalamnya diselipkan kartu Natal dan undangan untuk mengikuti kebaktian di gereja.
"Senang rasanya melihat mereka yang menerima tersenyum. Inilah saatnya kita berbagi," ujar Mygine, yang bekerja di sebuah kantor pengacara di Kopenhagen.
Kawasan Dybbolsbro dan Central Station menjadi pilihan karena wilayah yang terletak di pusat kota Kopenhagen ini menjadi tempat berkumpul para pekerja kasar. Umumnya, mereka datang dari pinggiran kota Kopenhagen. Wajah bahagia tampak terpancar dari dua orang lansia pria dan wanita yang menerima bingkisan Natalnya. Dalam bahasa Denmark, mereka bertutur dengan wajah memelas. Entah apa yang diucapkan, mungkin rasa terima kasih atas hadiah yang diterima.
Yang jelas, kesibukan kota Kopenhagen dalam dua pekan ini tak ingin membuat Mygine dan rekan-rekannya turut larut di dalamnya. Padahal, ia mengakui, kantornya juga ikut sibuk karena dimintakan pertimbangan hukum untuk beberapa konsep yang tengah dibawa di arena perundingan. "Tapi, kalau semua sibuk, siapa yang membuat mereka (kaum miskin) tersenyum?" kata Mygine.


