GAZA, KOMPAS.com - Perdana Menteri Palestina Ismail Haniya menyatakan pada puluhan ribu pendukung Hamas, bahwa kelompoknya tetap berkomitmen melenyapkan Israel.
"Kami tidak akan menyerahkan Palestina dari sungai hingga laut," kata Haniya kepada massa merujuk pada perbatasan sebelum 1948 menurut Mandat Palestina Inggris antara Laut Tengah dan Sungai Jordan.
"Tidaklah cukup bagi Hamas untuk membebaskan Gaza, maupun mendirikan keemiran di Gaza, maupun negara, maupun entitas merdeka ... Hamas berjuang untuk membebaskan seluruh Palestina."
Para pendukung Hamas kemarin membawa spanduk besar hijau dan foto Ahmed Yassin naik kursi roda. Syekh Ahmad Yassin adalah pendiri dan pemimpin kelompok itu hingga ia tewas dalam serangan udara Israel 2004.
"Dalam 22 tahun sejak pembentukannya, Hamas telah dapat merealisasikan sebagian besar tujuannya dan mengatasi setiap rintangan yang dihadapi dari penjara, pengasingan, pembunuhan dan pemilihan," kata pemimpin senior Hamas, Mahmud Zahar.
"Pengetahuan kami mengenai perlawanan itu adalah total, dan tidak terbatas pada konflik bersenjata," katanya menambahkan dalam wawancara dengan sebuah situs internet.
Abu Obeida, juru bicara sayap bersenjata Hamas, Brigade Ezzedine al Qassam, memuji evolusi militer kelompok itu.
"Kami telah dapat membangun militer untuk melawan dan untuk menghantui musuh zionis," katanya dalam pernyataan di situs internet terkait Qassam.
"(Brigade Qassam) telah merakit senjatanya dengan tangan kosongnya yang mencakup roket Qassam, yang menakuti musuh Zionis," ujarnya.
Hamas juga menggunakan ulang tahun itu untuk mengeluarkan pernyataan terbuka mengenai pembicaran menyangkut pertukaran tawanan untuk seorang tentara Israel yang telah ditahan di Gaza selama lebih dari tiga tahun. Mereka menyatakan ia tidak akan dibebaskan tanpa perjanjian.
"Tentara Zionis itu tidak akan melihat cahaya hari kecuali pendudukan itu menanggapi tuntutan kami, membebaskan tawanan dari tentara kami yang berani," katanya, merujuk pada tentara Gilad Shalit.
Dalam beberapa pekan belakangan ini Israel dan Hamas tampaknya hampir mencapai perjanjian untuk membebaskan Shalit sebagai pertukaran bagi ratusan tawanan Palestina yang ditahan di penjara Israel.
Hamas didirikan pada 1987 tak lama setelah permulaan intifada, atau perlawanan atas pendudukan Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Pendirian Hamas diilhami oleh Ikhwanul Muslimin Mesir.


