BANGKOK, KOMPAS.com - Pengadilan Thailand hari Senin kemarin memerpanjang penahanan awak pesawat yang terbang sambil membawa senjata berat dari Korea Utara. Senjata seberat 30 ton, termasuk rudal dan granat roket itu ditemukan setelah saeorang pilot asal Belarusia dan empat awaknya asal Kazakhstan mendarat untuk mengisi bahan bakar di Bandara Don Mueang, Bangkok, Jumat.
"Pengadilan menyetujui permintaan kami untuk menahan mereka selama 12 hari dan mereka akan dipindahkan ke penjara Bangkok sementara pengacara mereka mencari jaminan," kata juru bicara polisi nasional Pongsapat Pongcharoen.
Media Thailand melaporkan bahwa pihak berwenang telah diberitahu oleh intelejen AS ihwal pesawat tersebut.
Di Washington, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyatakan, hal itu juga harus menjadi pelajaran bagi Iran jika tidak ingin menerima sanksi internasional atas kegiatan nuklirnya.
Hillary mengatakan penangkapan itu menunjukkan pentingnya sebuah solidaritas internasional yang diadopsi oleh Dewan Keamanan PBB pada bulan Juni setelah Korea Utara melancarkan uji senjata nuklir bawah tanahnya.
"Ini menunjukkan bahwa sanksi dapat mencegah proliferasi senjata. Dan itu tidak akan mungkin terjadi tanpa tindakan tegas Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan saya pikir ada pelajaran di sana bagi orang-orang di seluruh dunia untuk melihat ketika datang ke Iran," kata Hillary.
Di Bangkok, pengacara para tersangka Saithong Somsak mengatakan secepatnya membuat jaminan. Saat ini ia masih mencari dukungan dari kedutaan Kazakhstan.
Seperti diberitakan sebelumnya, inspeksi pesawat kargo itu muncul dari inisiatif Wakil Kepala Pertahanan Udara Marsekal Meatha Sangkavichitr. Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Tawin Pleansri menyatakan belum ada bukti mereka terkait jaringan terorisme.
Mereka yang ditahan dalam kasus ini adalah pilot Mikhai Petukhou (54), dan awak pesawat meliputi Abdullayev Viktor (58), Vitaliy Shumkov (54), Alexandr Zrybner (53) dan Ilyas Issakov (53). Saat ditahan, mereka mengaku tidak tahu apa yang sedang dibawa.
Juru bicara pemerintah Panitan Wattanayagorn mengatakan, sebelum mendarat di Bangkok, pesawat itu berangkat dari Uni Emirat Arab dan akan transit di Bangkok untuk mengisi bahan bakar. Dari Bangkok, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Pyongyang.
Senjata yang ditemukan itu diketahui berasal dari sebuah perusahaan di Korea Utara dan pesawat ini terdaftar milik sebuah perusahaan di Georgia. Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva mengatakan mengatakan para kru telah meminta izin mendarat untuk mengisi bahan bakar. Mereka mengatakan, pesawat itu mengangkut peralatan pengeboran minyak.
Ketua Komisi Penerbangan Sipil Kazakstan, Radilbek Adimolda mengatakan pesawat itu milik maskapai dari Kazakhstan tapi sudah dijual ke Georgia. Ia berjanji akan membela hak warganya yang tengah ditahan.


