STOCKOLM, KOMPAS.com- Menteri Luar Negeri Swedia dan Norwegia, Kamis (10/12), menyatakan bahwa piagam Nobel Perdamaian berikut diploma milij Shirin Ebadi yang sempat disita pemerintah Iran, saat ini sudah dikembalikan. Meski demikian, situasi yang dihadapi aktivis hak asasi Iran itu sampai saat ini masih tetap mengkhawatirkan.
Untuk diketahui, bulan lalu pemerintah Iran menyita piagam dan diploma Nobel Perdamaian yang diterimakan kepada Ebadi tahun 2003 itu. Akan tetapi saat ini, piagam dan diplomanya itu sudah berada di tangan Ebadi lagi.
"Piagam dan diploma itu sekarang sudah ada padanya, tetapi situasinya tetap serius," kata Menlu Swedia Carl Bildt dan Menlu Norwegia Jonas Gahr Stoere dalam pernyataan bersama sehari sebelum upacara penyerahan Nobel.
Sejauh ini, Kedutaan Iran belum bisa dikonfirmasi mengenai kebenaran informasi pengembalian piagam dan diploma milik Ebadi itu.
Penyitaan piagam dan diploma Nobel Perdamaian yang menurut Ebadi atas perintah Pengadilan Revolusioner Teheran itu telah menyebabkan renggangnya hubungan diplomati antara Iran dan Norwegia. Norwegia yang merupakan tempat pemberian penghargaan Nobel Perdamaian sangat syok, karena ini merupakan peristiwa pertama sepanjang 108 tahun usia Nobel Perdamaian. Tak heran kalau Norwegia langsung meyampaikan protes kepada Teheran.
Ebadi adalah perempuan muslim pertama yang memperoleh Nobel Perdamaian. Dia dinilai telah berjasa memperjuangkan demokrasi di Iran.


