KOMPAS
Sabtu, 20 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
400 Guru Sri Lanka Berguru dari Sekolah Indonesia
Minggu, 6 Desember 2009 | 14:53 WIB
KBRI KOLOMBO
Duta Besar RI Djafar Husein didampingi Gubernur Provinsi Selatan Sri Lanka, Kumari Balasuriya meninjau tempat pelaksanaan workshop di Sekolah Usvatun Hasanah Maha Vidyalaya, Galle, Sri Lanka.

KOLOMBO, KOMPAS.com-Guru-guru Sri Lanka mengikuti workshop pendidikan yang diselenggarakan atas kerjasama KBRI Kolombo dengan Sekolah Indonesia Fajar Hidayah dan dukungan penuh pemerintah Sri Lanka.

Workshop bertema “Creative Teaching Methodologies: Using Recycled Materials to Support Teaching and Learning” diikuti dengan antusias oleh guru-guru Sri Lanka.  Terlihat dalam jumlah keikutsertaan yang signifikan dan keseriusan para guru mengikuti kegiatan hingga selesai. Kegiatan workshop sehari tersebut berlangsung di dua tempat yang berbeda.

Pada tanggal 3 Desember 2009, workshop berlangsung di Galle, ibukota Provinsi Selatan yang merupakan daerah paling parah terkena bencana tsunami 2004.  Workshop di Galle diikuti oleh sekitar 240 guru dari berbagai wilayah di Provinsi Selatan. Beberapa guru menghabiskan waktu 4 jam untuk menempuh jarak dari tempat kediaman mereka ke tempat pelaksanaan workshop di Sekolah Usvatun Hasanah Maha Vidyalaya, sebuah sekolah muslim yang dikelola pemerintah. Pelaksanaan workshop walaupun berlangsung dalam bahasa Inggris, pada beberapa aktifitas dibantu penterjemah ke dalam bahasa Sinhala maupun Tamil. Workshop ini diikuti oleh guru-guru dari berbagai latar belakang agama dan sekolah.

Sedangkan pada 4 Desember 2009, workshop berlangsung di KBRI Kolombo. Mengingat keterbatasan tempat maka para guru yang hadir tidak sebanyak di Galle, yaitu 160 orang. Namun hal itu tidak mengurangi semangat para guru, apalagi banyak guru yang ingin mengenal Indonesia melalui KBRI Kolombo. Bahkan ada 11 orang guru dari kota Ampara, wilayah Provinsi Timur yang harus menghabiskan waktu 12 jam dalam perjalanan darat untuk dapat mencapai Kolombo guna mengikuti workshop ini. Seorang guru bernama Shibly Samsudeen menyampaikan bahwa mereka ingin belajar dan menemukan hal yang baru serta ingin melihat  bagaimana sebuah sekolah Islam di Indonesia mampu memberikan workshop yang dapat diterima dengan baik oleh semua pihak. Sehingga total dengan jumlah guru yang mengikuti workshop di Galle adalah 400 orang.

Melalui workshop ini diajarkan bagaimana caranya menjadi seorang guru yang kreatif di mana konsep belajar mengajar tidak hanya mendengarkan guru dan mengerjakan tugas sekolah di kelas tetapi juga menciptakan suasana yang membuat para murid menjadi aktif dan kreatif dalam belajar. Workshop ini memiliki tujuan untuk mengubah paradigma ”traditional classrooms” menjadi ”thinking and feeling classrooms”. Selain itu, workshop ini juga mengajarkan pengembangan otak kanan dan otak kiri di mana diajarkan cara mengajar matematika secara kreatif dan kemampuan seni dengan memanfaatkan barang-barang daur ulang. Konsep ini tidak hanya memberikan suasana yang menyenangkan untuk belajar bagi anak-anak tetapi juga berorientasi ramah lingkungan.

Duta Besar Djafar Husein dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan workshop adalah langkah awal proses saling mengenal dunia pendidikan dua negara dan mencari peluang untuk kerjasama dengan melibatkan berbagai pihak termasuk lembaga internasional dan regional. Diharapkan berbagai pihak baik pemerintah maupun non-pemerintah dapat bersinergi dan mencari peran yang tepat untuk mengembangkan sebuah kerjasama pendidikan yang pada akhirnya akan memberikan pencerahan kepada para guru dalam membentuk generasi yang bertanggungjawab terhadap lingkungan serta kreatif dalam menyelesaikan masalah. Workshop ini juga merupakan kontribusi Indonesia bagi Sri Lanka sekaligus merupakan upaya untuk meningkatkan people-to-people contact antara dua negara.

Penulis: ONO   |   Editor: ono   |   Sumber : KBRI Kolombo Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.