KOMPAS.com - Usai menghadiri Kongres Asosiasi Surat Kabar Dunia di Hyderabad kami melanjutkan perjalanan ke New Delhi, Ibu Kota India. Hari Jumat, kami mendarat di Bandara Internasional Indira Ghandi. Kebetulan kami mendarat di bandara domestik setelah menempuh perjalanan 2.15 menit dari Hyderabad.
Pengumuman terpasang di lokasi pengambilan bagasi: "Agar lebih aman penumpang dianjurkan menggunakan taksi bayar dimuka." Kami pun mengikuti anjuran pengumuman itu.
Kami memesan taksi untuk menuju Hotel Parklane di sekitar Green Park. Tarifnya sekitar 150 Ruppe. "'Kok murah apakah ini dekat," ujar kolega saya dari Jakarta Abun Sanda.
Selanjutnya adalah keterkejutan. Bayangan taksi Jakarta dalam bentuk sedan dan ber-AC, harus ditinggalkan. Taksi di India adalah mobil suzuki carry, tanpa AC dan untuk pendingin hanya mengandalkan angin yang masuk dari jendela sengaja dibuka atau memang tak ada jendela.
Di atas taksi, kami keluar dari bandara menuju hotel. Di pinggir-pinggir jalan kami menyaksikan tenda-tenda tempat tinggal orang tak punya rumah.
Negara dengan pertumbuhan ekonomi 6 persen yang dikagumi dunia, tetap menyimpan wajah kemiskinan yang akut. Hampir separuh, sekitar 600 juta, dari penduduk India adalah miskin.
Sepanjang jalan New Delhi menuju Utar Pradesh dan juga di dalam kota New Delhi kami menyaksikan tenda-tenda kumuh berdiri di sepanjang jalan. "Kalau musim dingin dan panas, banyak yang meninggal dunia," ujar Muhammad Iksan, seorang mahasiswa Indonesia di India.
Kesenjangan sosial-ekonomi tidaklah menjadi faktor yang memicu instabilitas politik di India karena pemerintah tetap memberikan perhatian para mereka. Murahnya pendidikan, kesehatan gratis, terkontrolnya harga bahan pokok serta faktor kultural di India, tetap mampu menjadi penjaga soliditas India.
Salah satu hal penting, menurut Duta Besar Indonesia untuk India AM Ghalib, adalah kesederhanaan para pemimpin India. "Mereka sangat sederhana, ini yang perlu dicontoh para pemimpin Indonesia," ujar Ghalib yang baru tiba kembali di Delhi Sabtu malam dari Jakarta. (Budiman Tanuredjo dari New Delhi)


