DUBAI, KOMPAS.com - Para kreditur Dubai patut ketar-ketir. Nasib tagihan mereka makin tidak jelas setelah Pemerintah Abu Dhabi memastikan tidak akan menjamin seluruh utang keemiratan tetangganya. Seorang pejabat senior Pemerintah Abu Dhabi yang dikutip kantor berita Reuters memastikan, keemiratan terbesar di Uni Emirat Arab (UEA) itu akan selektif dalam penyaluran duit bantuan ke Dubai.
"Kami perlu mengevaluasi komitmen Dubai, dan hanya membantu kasus per kasus," ujar si pejabat yang namanya tidak dikutip itu. Sikap Abu Dhabi ini mematahkan persepsi yang berkembang di pasar keuangan selama ini. Pasar finansial sebelumnya percaya, Abu Dhabi, yang merupakan Ibukota Pemerintahan Federal UEA, akan pasang badan jika Dubai terbelit masalah.
Hanya memonitor
Keyakinan investor bahwa Abu Dhabi akan turun tangan semakin kuat, begitu bank sentral keemiratan yang kaya minyak itu membantu Dubai, awal tahun ini. Abu Dhabi, Februari lalu, membeli obligasi sukuk Dubai. Aksi serupa diulang keemiratan yang menyumbang sekitar 90 persen dari total produksi minyak UEA itu, pertengahan pekan lalu.
Saat Dubai mengumumkan penundaan pembayaran utang, nilai eksposur Abu Dhabi sebesar 15 miliar dollar AS. Dana pinjaman itu tersalur melalui bank sentral dan dua bank swasta Abu Dhabi.
Keputusan Abu Dhabi untuk membantu Dubai secara pilih-pilih sebenarnya wajar saja. Abu Dhabi, yang paling makmur di antara tujuh keemiratan UEA itu, juga punya utang yang besar.
Apalagi, merujuk undang-undang, masing-masing keemiratan punya kedaulatan ekonomi. Pemerintah federal tidak punya hak mengatur dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di masing-masing keemiratan. Karena kekayaan menjadi hak masing-masing keemiratan, maka utang juga menjadi beban setiap keemiratan.
Begitu krisis Dubai meletus, bank sentral UEA mengaku hanya akan memonitor. "Kami perlu memastikan Dubai tidak membawa dampak negatif bagi UEA," ujar sumber Reuters di Abu Dhabi.
Namun, bagi investor, sikap Abu Dhabi ini tetap kejutan yang tidak enak. Saat menyalurkan kredit ke Dubai, mereka selalu memandang Abu Dhabi yang berlimpah dengan minyak. Dubai sendiri tidak punya cadangan minyak.
Dubai selama ini mengandalkan pelabuhan sebagai sumur uang. Minimnya sumber minyak menjadi alasan mengapa Dubai berambisi menjadi pusat jasa dan pariwisata di Kawasan Teluk. (Thomas Hadiwinata/Reuters)

Severity: Notice
Message: Undefined variable: output
Filename: libraries/Globalfunc.php
Line Number: 748

