Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 06:49 WIB
Fonseka Maju Jadi Calon Presiden
| Senin, 30 November 2009 | 09:18 WIB
|
Share:

kolombo, minggu - Mantan panglima angkatan bersenjata Sri Lanka, Sarath Fonseka (58), Minggu (29/11), memastikan akan maju sebagai kandidat presiden pada pemilu 26 Januari 2010. Fonseka, yang diusung partai-partai oposisi, akan menantang Presiden Mahinda Rajapaksa.

Fonseka memimpin pasukan Sri Lanka menggempur dan mengalahkan kelompok bersenjata Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE), mengakhiri konflik berdarah selama 25 tahun. Dia mengundurkan diri dua pekan lalu karena merasa bahwa dirinya dipinggirkan Rajapaksa menyusul dugaan dia mencoba melakukan kudeta.

”Sri Lanka mengalami kekerasan di tangan teroris dan telah menderita terlalu lama. Kini kita telah selesai dengan terorisme. Akan tetapi, kalian tidak bisa menyerahkan negara ke tangan diktator,” ujar Fonseka.

Dia mengkritik pemerintah soal korupsi, kebebasan media, demokrasi, pemukiman kembali pengungsi perang, keuntungan perdamaian, dan tatanan hukum. ”Kita harus menjamin pemerintahan yang baik. Saya akan menjamin demokrasi dibangun kembali,” katanya.

Dengan maju sebagai kandidat presiden, Fonseka bisa memecah basis dukungan Rajapaksa, yang juga dianggap sebagai pahlawan berkat kemenangan melawan LTTE. Pemerintah Sri Lanka memajukan jadwal pemilu dua tahun lebih awal dengan harapan bisa mengambil keuntungan dari kemenangan atas LTTE.

Dalam serangkaian pemilu lokal baru-baru ini, koalisi pimpinan Rajapaksa berhasil meraih kemenangan di semua majelis provinsi di delapan wilayah. Akan tetapi, dia bisa menghadapi tantangan kuat Rajapaksa yang didukung partai oposisi probisnis Partai Nasional Bersatu dan partai Janatha Vimukthi Peremuna.

Meskipun dianggap pahlawan perang, Fonseka juga tidak lepas dari kritik, termasuk dari dalam tubuh militer sendiri. Dia dinilai memiliki mentalitas yang kasar dan menghalalkan segala cara untuk menang sepanjang kariernya.

Sebuah laporan Departemen Luar Negeri AS tentang kemungkinan kejahatan perang saat penumpasan LTTE menyebutkan, sejumlah perwira militer Sri Lanka telah ditanyai soal apakah perintah yang mereka terima mungkin melanggar hukum kemanusiaan.

Saat memimpin penumpasan LTTE, Fonseka diberi kekuasaan hampir tak terbatas. Kemarin, Fonseka menyatakan dia terbuka terhadap penyelidikan kejahatan perang internasional. ”Saya memimpin pasukan profesional dan tidak ada alasan mengapa tidak boleh ada investigasi,” kata Fonseka. Rajapaksa menolak penyelidikan semacam itu.(ap/afp/reuters/fro)