Kamis, 27 November 2014

News / Internasional

Hati-hati, Ada Geng Suka Perkosa Turis

Sabtu, 28 November 2009 | 10:03 WIB

KOH CHANG, KOMPAS.com — Suami istri dari Inggris menjadi korban pemerkosaan yang mengerikan oleh geng ketika berlibur di Thailand. Pasangan itu memilih berlibur di pulau wisata Koh Chang, Thailand, untuk mengakhiri liburan keliling dunia mereka semasa cuti panjang setahun.

Namun, Jumat (27/11) malam, pasangan yang merupakan seorang pengusaha dan pegawai negeri itu meninggalkan Thailand setelah mengalami malam menakutkan. Mereka telah dibius dan diperkosa oleh geng yang mereka curigai mengincar para turis asing.

Pulau Koh Chang, surga wisata di Thailand, tercoreng karena seorang pengusaha Inggris dipaksa menyaksikan istrinya diperkosa. Pasangan tersebut tak ingin nama penuh mereka dipublikasikan. Namun, sang pria, Richard (42), ingat kejadian ketika ia dipaksa menyaksikan istrinya, Susan (31), diperkosa oleh dua pria.

Dua hari setelah kejadian, pasangan itu berbaring tak berdaya di pondok penginapan mereka seiring ingatan mereka pulih. Mereka menelepon polisi begitu pulih. Namun, tak ada yang datang menolong mereka. Mereka lalu pergi ke RS setempat untuk diperiksa dokter.

"Sang dokter memeriksa kami dan mendengar cerita kami, dan sepertinya ia langsung paham jalan kejadiannya," kata Richard.

"Dokter itu memberitahu bahwa kami menunjukkan tanda-tanda dibius dengan obat Dormicum, sejenis obat bius yang sering digunakan untuk memerkosa ketika berkencan. Saya tak tahu obat itu, tapi sepertinya dokter itu tak heran sama sekali," lanjutnya.

"Ketika saya bertanya pada dokter apa mungkin memeriksa bekas obat. Ia mengatakan itu tidak mungkin karena pasti obat itu sudah keluar dari metabolisme kami."

Pemeriksaan menunjukkan bahwa pasangan telah diperkosa dan dimesumi. Menurut mereka, polisi tampaknya tak tertarik memeriksa kasus mereka dan tak tanggap. Mereka juga menghubungi pihak berwajib Inggris. Namun, perwakilan Inggris yang mendatangi mereka juga sepertinya kurang tanggap.

Jumat malam, mereka pulang ke Inggris, dan sepertinya tak ada harapan kasus mereka akan ditindaklanjuti. Akan tetapi, mereka ingin menekankan betapa bahayanya berhubungan dengan orang asing di tempat seperti itu.

Kata Richard, "Saya yakin orang tak akan percaya ini dan akan mengira kami kelebihan minum atau bahkan sengaja memakai obat terlarang. Tapi kenyataannya semua ini memang terjadi."

Susan mengaku bahwa malam tragis itu dimulai ketika mereka minum-minum di bar pantai, tempat mereka bertemu dengan seorang wanita Inggris dan beberapa pria Perancis. Mereka menghabiskan waktu bersama orang-orang itu, dan ia dan pasangannya sempat pergi sebentar lalu kembali lagi. Ia yakin bahwa saat itulah minuman mereka diberi obat.

"Lalu segalanya jadi kabur. Salah seorang pria Perancis itu menggendong saya keluar dari bar. Dalam keadaan normal saya takkan pernah membiarkan itu terjadi. Kejadiannya aneh sekali."

Mereka semua kembali ke pondok Richard dan Susan. "Lalu semuanya makin kabur lagi," kata Susan.

Richard mengaku samar-samar ingat ketika di luar pondok itu dan melihat dari jendela ketika Susan dianiaya para pria itu. "Tiba-tiba saja sudah pagi dan saya tergeletak meringkuk di balkon dan pria-pria Perancis itu berdiri memandangku, tertawa-tawa, dan mengakui perbuatan mereka terhadap Susan." Ia sadar bahwa ia pun telah dilecehkan secara seksual.

Selain polisi yang tak tanggap, perwakilan konsulat—seorang wanita Thailand, yang datang setelah mereka melapor ke Kedutaan Inggris—mengatakan bahwa kepolisian tak akan menanggapi kasus mereka dengan serius.

"Kami telah dihubungi polisi yang menanyakan apa rencana kami selanjutnya," kata Richard.

"Kami tak mau kasus ini lepas begitu saja. Namun, kami harus pulang menemui keluarga kami."

Seorang juru bicara Kepolisian Thailand dengan tegas menyangkal bahwa kepolisian tak menanggapi kasus itu dengan serius dan mengaku bahwa penyelidikan sedang dilakukan.

Juru bicara Kedutaan Inggris mengatakan, "Tim konsulat di Bangkok telah dimintai bantuan dan saran bagi pasangan kebangsaan Inggris itu, dan kini tengah menindak-lanjuti kasus darurat ini dengan Kepolisian Thailand.

"Staf dari konsulat kami di Pattaya telah mendatangi pasangan Inggris itu di hari pertama begitu kedutaan dihubungi untuk memberikan bantuan langsung. Staf konsulat kami di London juga telah menghubungi keluarga dari korban di UK."


Editor : tof
Sumber: