KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Darah Mengalir di Benteng Kota Bara
Jumat, 27 November 2009 | 16:22 WIB
AP PHOTO/ANJUM NAVEED
Tentara Pakistan berjalan melalui sebuah pasar yang hancur di Sararogha, sebuah kota kecil di wilayah Waziristan Selatan, berbatasan dengan Afganistan, Selasa (17/11). Tentara Pakistan ini mengawal sejumlah wartawan lokal dan asing untuk meninjau lokasi yang direbut pasukan Pakistan dari tangan pejuang Taliban di wilayah peperangan di Waziristan .
TERKAIT:

ISLAMABAD, KOMPAS.com — Tewasnya Shapoor Khan dalam pengeboman di Bajaur, Mamoond, tadi pagi, boleh jadi adalah balas dendam para gerilyawan yang jengkel atas kematian para rekannya. Dalam penyergapan yang dilakukan militer Pakistan, Jumat (27/11), sedikitnya 15 orang dari kubu gerilyawan tewas.

Menurut jaringan televisi TV Express, pasukan keamanan mengepung sebuah benteng pertahanan di kawasan suku Bara. Mereka menghancurkan sebuah tempat penyimpanan amunisi gerilyawan di kota itu.

Beberapa sumber mengungkapkan, baku tembak hebat terus berlangsung antara pasukan keamanan dan gerilyawan di kawasan suku tersebut.

Menurut data angkatan darat Pakistan, pasukan keamanan telah menewaskan lebih dari 600 gerilyawan sejak mereka melancarkan serangan sengit pada 17 Oktober di Waziristan Selatan, mengarah ke kawasan dekat benteng pertahanan Taliban di Pakistan.

Sehari sebelumnya, pada Kamis, sebuah bom pinggir jalan yang dikemas dengan lempeng baja diledakkan di kota Penshawar, mencederai dua polisi dan seorang gadis berumur 11 tahun. Bom yang diledakkan dengan remote control itu ditanam di dekat tiang listrik di kawasan ramai, dan ditargetkan pada seorang kepala kantor kepolisian.

Penulis: TOF   |   Editor: tof   |   Sumber :Xinhua Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.