GAZA, KOMPAS.com — Pemimpin Hamas, Ismael Haneya, Kamis (26/11), membantah pernyataan Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang menyebutkan bahwa Hamas melakukan pertemuan rahasia dengan Israel.
"Tuduhan Presiden Abbas bahwa Hamas dan Israel sedang melakukan pertemuan rahasia merupakan tuduhan yang tidak berdasar," kata Haneya seusai pertemuan dengan delegasi Swiss di kantornya di kota Gaza.
Di sisi lain, Haneya mengatakan, pihaknya sama sekali menolak gagasan pengadaan negara dengan perbatasan-perbatasan sementara sebagai suatu solusi bagi konflik dengan Israel. "Hamas tidak menerima negara Palestina dengan perbatasan-perbatasan sementara, soal tuduhan Abbas itu sama sekali tidak berdasar," kata Haneya.
Ia menegaskan, Hamas sangat mendukung pembentukan negara Palestina merdeka dengan kedaulatan penuh dan Jerusalem sebagai ibu kotanya tanpa merampas hak-hak warga Palestina termasuk hak kembali pengungsi Palestina yang tersebar di luar negeri.
Haneya, yang sebelumnya menjabat Perdana Menteri Palestina sebelum pecahnya konflik di Jalur Gaza, mengecam keras berlanjutnya embargo internasional terhadap pemerintah Hamas di Jalur Gaza dan blokade Israel di Jalur Gaza yang diberlakukan selama hampir tiga tahun terakhir.
Pejuang Hamas merebut kekuasaan di wilayah Jalur Gaza, Juni 2007, dan mengusir pasukan keamanan yang setia kepada Presiden Abbas. Sejak itu, wilayah pesisir tersebut diblokade Israel.


