
BEIJING, KOMPAS.com - Baru saja menghangat dengan kunjungan pertama Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Beijing pada pekan lalu, hubungan AS-China kembali diwarnai ”ganjalan”. Isunya menyangkut aktivitas mata-mata China terhadap AS yang disebut-sebut paling agresif dan kian meningkat.
Dalam Laporan Tahunan Komisi Pengkajian Ekonomi dan Keamanan AS-China kepada Kongres AS yang dikeluarkan sehari pascakunjungan Obama, pekan lalu, disebutkan bahwa aktivitas mata-mata China meningkat dalam hal skala, intensitas, dan kecanggihan. China, Senin (23/11), mengkritik laporan itu dan menyebutnya penuh prasangka, tidak benar, dan mencederai hubungan yang mulai menghangat.
Pada bagian 3 (halaman 148-166) laporan setebal 367 halaman itu disebutkan, China terlibat dalam spionase orang dan siber terhadap AS. Sebagai tambahan, ada peningkatan signifikan dalam pembobolan siber yang berasal dari China dengan sasaran sistem komputer pemerintah dan pertahanan AS.
”Aktivitas itu berpotensi menghancurkan infrastruktur penting, mengganggu sistem perdagangan dan perbankan, serta membahayakan data pertahanan dan militer yang sensitif,” sebut laporan itu.
Lebih jauh dipaparkan, badan intelijen China secara aktif terlibat dalam operasi melawan AS dan kepentingan AS. ”China adalah negara paling agresif yang melakukan spionase terhadap AS, dengan fokus mendapatkan informasi dan teknologi AS yang bermanfaat bagi modernisasi militer dan perkembangan ekonomi,” demikian isi laporan tersebut.
Beberapa aktivitas spionase atas nama China dilakukan oleh agen nonprofesional. Mereka mungkin termotivasi oleh keuntungan, patriotisme, kedekatan etnis, dan paksaan. Sejumlah kasus spionase terkini yang melibatkan China, lanjut laporan itu, menunjukkan bukti upaya mata-mata yang lebih fokus pada pengumpulan informasi dengan mempekerjakan sumber-sumber di luar komunitas China-Amerika.
Meskipun dalam beberapa aktivitas spionase tidak ada keterlibatan negara secara langsung, Pemerintah China mendorong dan memperoleh manfaat dari aktivitas itu. Mata-mata dan pejabat konsuler China juga terlibat aktif dalam mengawasi dan mengganggu kelompok pembangkang China di AS.
Meningkat tajam
Selain agen, aktivitas mata-mata juga dilakukan melalui dunia siber. Laporan komisi itu menyebutkan, jumlah aktivitas komputer yang mengancam AS meningkat tajam pada tahun 2009. Kebanyakan aktivitas itu tampaknya berasal dari China. Ada indikasi kuat keterlibatan pemerintah atau badan yang didukung Pemerintah China dalam aktivitas tersebut.
Pemerintah China telah merekrut warga yang terampil secara teknis, termasuk dari sektor swasta, untuk meningkatkan kemampuan sibernya. Para operator siber yang terampil juga direkrut dari firma-firma teknologi informasi dan program ilmu komputer untuk mendukung aktivitas tersebut.
Terkait temuan dalam aktivitas mata-mata itu, komisi merekomendasikan agar Kongres mengkaji kecukupan sumber yang tersedia bagi program intelijen, kontraintelijen, dan penguatan kontrol ekspor guna menjamin Pemerintah AS mampu menghadapi tantangan intelijen China. Komisi juga merekomendasikan agar Kongres mengkaji efektivitas penegakan hukum, pertahanan dan inisiatif komunitas intelijen untuk mengembangkan teknik yang efektif dan dapat diandalkan untuk menangkal eksploitasi dan serangan komputer.
Ketua Komisi Pengkajian Ekonomi dan Keamanan AS-China Carolyn Bartholomew mengatakan, China mengubah cara melakukan aktivitas spionase. Kendati secara historis China mencoba menarik keturunan China Amerika, kini China beralih pada model Uni Soviet, yaitu membayar informan dengan uang tunai dan hadiah.
Di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Qin Gang, mengatakan, laporan itu mengabaikan fakta dan penuh prasangka serta motif tersembunyi. ”Kami menasihati apa yang disebut komisi ini agar jangan selalu melihat China melalui kacamata kuda. Jangan melakukan hal-hal yang mencampuri urusan dalam negeri China dan merusak hubungan China-AS,” kata Qin.
China justru menyatakan telah menderita kehilangan rahasia negara secara besar-besaran melalui internet. Wakil Menteri Industri Informasi China Lou Qinjiang mengatakan, AS dan negara maju lainnya telah mengancam China melalui internet. (ap/afp/fro)