KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Korban Pembantaian Filipina Capai 50 orang
Rabu, 25 November 2009 | 23:42 WIB
AP PHOTO/AARON FAVILA
Aparat keamanan mengangkut seorang korban pembantaian di perbukitan Datu Ampatuan, Provinsi Maguindanao, Filipina selatan, Selasa (24/11). Sejumlah wartawan dan keluarga politisi lokal menjadi korban persaingan politik, dalam rangka memperebutkan posisi gubernur pada pemilu Mei 2010. Filipina sudah terbiasa menghadapi pembunuhan bertujuan politik menjelang pemilu.
TERKAIT:

COTABATO, KOMPAS.com - Pemerintah Filipina terus mengevaluasi pencarian korban pembantaian yang sebelumnya dikabarkan menewaskan 46 orang. Mereka khawatir jumlah korban yang sesungguhnya mencapai 50 orang.

Pembunuhan massal terhadap para pembantu dan keluarga seorang politisi lokal di Filipina selatan, di samping wartawan yang menyertai mereka, itu terjadi Senin di sekitar daerah pertanian di pulau selatan Mindanao yang bergolak.

“Pencarian akan terus dilanjutkan pada hari ini,” kata juru bicara militer setempat Letkol Jonathan Ponce, kepada AFP. “Mereka mengatakan terdapat lebih dari 50 korban, namun hanya 46 mayat yang telah ditemukan, karena itu kami akan mencari lainnya,” ujarnya.

Jenazah dari sedikitnya 13 wartawan dan keluarga politisi lokal Esmael Mangudadatu, ditemukan telah dikubur di pemakaman massal atau di buang di tempat sampah di pinggir jalan di provinsi Maguindanao. Pihak militer mengatakan, tertuduh utama dalam aksi penculikan dan pembunuhan itu adalah orang-orang bersenjata yang disewa oleh gubernur Maguindanao, Andal Ampatuan, dan putranya yang bernama sama.

Keluarga para korban dan para saksi mata mengatakan, kelompok politik kuat itu ingin menghentikan langkah Mangudadatu yang menantang Ampatuan junior untuk meraih jabatan gubernur dalam pemilihan umum nasional tahun depan.

Para korban itu ditangkap pada saat mereka sedang melakukan perjalanan konvoi dengan isteri Mangudadatu, ketika dia akan ke kantor komisi pemilihan umum untuk mendaftarkan suaminya yang mencalonkan diri sebagai gubernur.

Tiga polisi yang diyakini setia kepada Ampatuan telah menahan mereka dengan tuduhan terlibat dalam pembunuhan. Setelah terjadi pembunuhan besar-besaran itu, Presiden Filipina Gloria Arroyo memberlakukan peraturan darurat di di Maguindanao, tetangga kota Cotabato dan provinsi Sultan Kudarat, di dekatnya.

Ponce mengatakan, tentara telah dikirim ke wilayah bergolak itu. Mereka mendirikan tempat-tempat pemeriksaan di jalan-jalan raya untuk mencegah terjadinya bentrokan bersenjata.

Penulis: TOF   |   Editor: tof   |   Sumber : ANT Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.