
WASHINGTON, KOMPAS.com — Delapan tahun setelah serangan teroris 11 September menuntun AS menggencarkan operasi militer di Afghanistan, Presiden Barack Obama menekankan, penumpasan Al Qaeda beserta jaringan teroris dan militannya masih menjadi kepentingan nasional AS. "Saya berniat menuntaskan tugas ini," katanya.
Warga AS yang telah muak terhadap perang akan kembali mendukung pertempuran di Afghanistan meskipun mereka memahami arti kekalahan perang. Seruan dukungan terhadap perang yang mencakup puluhan ribu personel tambahan pasukan ini akan diumumkan secara nasional oleh Obama, Selasa pekan depan.
Presiden dari Partai Demokrat ini telah dihujam secara bertubi-tubi oleh kalangan Republik yang menantikan selama beberapa bulan terakhir kebijakan terbaru Obama terhadap pertempuran di Afghanistan. Merespons terjangan kritik, Obama berulang kali menekankan bahwa ia lebih menaruh perhatian pada keputusan yang tepat ketimbang keputusan yang cepat.
Beberapa pejabat militer AS memerkirakan, sekitar 32.000 hingga 35.000 personel akan dikerahkan mulai Februari atau Maret tahun depan. Jumlah personel yang merupakan terbesar sejak dimulainya kampanye militer AS di Afganistan itu akan menelan dana hingga 75 miliar dollar AS per tahunnya.
Untuk memuluskan rancangannya mengakhiri perang di Afghanistan, Obama menjelaskan, kampanye militer di negara tersebut selama ini telantar akibat minimnya fasilitas pendukung ataupun perhatian dari pemerintahan George W Bush.
Beberapa pejabat militer menyebut Obama sedang mempertimbangkan salah satu opsi yang dinilai berisiko kecil dalam rancangan baru kampanye militernya. Namun, rancangan ini tetap dikhawatirkan tidak dapat menekan jumlah korban tewas dari pihak pasukan AS dan tidak menjanjikan kesuksesan.