Jumat, 25 April 2014

News / Internasional

Ahmed Mohamoud, Wajah Pilu Perang di Somalia

Rabu, 25 November 2009 | 08:12 WIB

Baca juga

 

KOMPAS.com - Sebuah peluru menerjang seorang ibu dan anaknya saat berjalan melintasi jalanan ibu kota Somalia, Mogadishu. Si ibu merasakan sakit yang menyengat telapak tangannya. Lalu, dia melihat anaknya yang berusia 8 tahun. Peluru menembus tulang pipi, hidung, dan mulut bocah itu. Darah berleleran hingga ke pinggangnya.

Dua bulan kemudian, wajah Ahmed Mohamed Mohamoud, bocah itu, tampak mengerikan. Hidungnya seperti lubang kecil. Mulutnya selalu terbuka karena dia tidak memiliki bibir atas. Bola mata kanannya lenyap. Dia hampir tidak bisa berbicara. Dialah wajah pilu perang Somalia.

Seperti korban sipil lainnya, Ahmed terjebak dalam baku tembak antara kelompok pemberontak bersenjata dan pasukan Pemerintah Somalia saat berjalan pulang dari pasar bersama ibunya. Tidak seperti Irak dan Afganistan, hanya ada sedikit gambar pertumpahan darah di Somalia. Wartawan asing menjauh karena bahaya di tempat itu.

Pada 24 September, seorang fotografer kantor berita Associated Press mengambil foto Ahmed yang berlumuran darah saat dibawa dari tempat dia tertembak oleh dua pejalan kaki.

”Hati saya remuk setiap kali mengingat wajah dia sebelumnya, saat saya membandingkan kedua wajah itu,” ujar Safi Mohamed Shidane, sang ibu, saat menjenguk putranya di sebuah rumah sakit di Kenya.

Sebelum dibawa ke Kenya, dokter di Mogadishu telah melakukan apa yang mereka bisa untuk menyelamatkan Ahmed. Mereka memasukkan selang trakeotomi untuk bernapas dan selang makanan. Luka-luka mengerikan di wajahnya dijahit dan dibungkus lapisan tebal.

Dokter yang merawat Ahmed di Kenya, Igohwo Etu, mengatakan, bocah itu memerlukan operasi dengan biaya ratusan, bahkan ribuan dollar AS untuk merekonstruksi wajahnya.

Minim

Minimnya layanan kesehatan dasar dan kurangnya tenaga dokter spesialis telah memperburuk korban warga sipil, terutama anak-anak, di Somalia. Negara itu terbelit kekacauan sejak pemerintah pusat digulingkan pada tahun 1991 dan para panglima perang saling menodongkan senjata.

”Situasi yang dialami Ahmed mewakili krisis yang dihadapi banyak sekali anak di Somalia,” kata Katherine Grant, spesialis perlindungan anak dari Unicef.

Lembaga Save the Children menyebut Somalia sebagai salah satu tempat paling berbahaya bagi anak-anak. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutkan, satu dari 10 anak di Somalia tewas sebelum ulang tahun pertama mereka.

Sebagai seorang bocah, Ahmed tetap ceria dan bermain dengan helikopter mainan tanpa tahu kepastian masa depannya. (AP/FRO)


Editor : jimbon
Sumber: