Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 09:02 WIB
Dua Menteri Karzai Dituduh Korupsi
Josephus Primus | primus | Senin, 23 November 2009 | 17:25 WIB
|
Share:

KABUL, KOMPAS.com — Sebanyak dua menteri Afganistan sedang diperiksa atas tuduhan melakukan korupsi, Senin (23/11). Wakil penuntut umum, Fazel Ahmad Faqiryar, mengatakan, selain kedua menteri tersebut, seorang pejabat lainnya juga menjadi target pemeriksaan.
   
"Bila kedua menteri itu tidak memenuhi panggilan pemeriksaan, kami akan mengambil langkah hukum untuk memproses kasus itu," katanya.
   
Sebelumnya Perdana Menteri Inggris Gordon Brown baru-baru ini mendesak Presiden Afganistan Hamid Karzai untuk meningkatkan usaha memberantas korupsi. Brown mengatakan bahwa dia telah berbicara kepada Karzai setelah dia ditetapkan sebagai presiden.
   
"Afganistan sekarang memerlukan upaya segera dan baru untuk mengatasi korupsi, memperkuat pemerintah lokal, menjangkau seluruh bagian masyarakat Afganistan, dan memberi masyarakat Afganistan sesuatu yang nyata bagi masa depan mereka," kata Brown di depan anggota parlemen.
   
"Presiden Karzai setuju dengan saya bahwa Afganistan sekarang perlu untuk memperkuat jumlah militer dan polisinya sehingga pada saatnya kami dapat mengurangi jumlah prajurit kami," katanya.
   
Inggris memiliki sekitar 9.000 prajurit di Afganistan dan telah mengatakan bahwa London siap untuk mengirimkan 500 lagi tambahan karena Kabul setuju untuk menyediakan tambahan prajurit Afganistan untuk dilatih dan bertempur bersama pasukan Inggris.
   
Pemerintah berada di bawah tekanan dengan meningkatnya jumlah kematian prajurit Inggris sebagai bagian dari pasukan internasional di Afganistan. Pemerintah Inggris dikecam keras karena dinilai gagal mempersenjatai pasukannya secara layak, dengan kurangnya jumlah helikopter yang dipandang sebagai salah satu penyebab meningkatnya risiko kematian serdadunya.
   
Brown mendesak Karzai untuk menitikberatkan pada apa yang dia sebut sebagai sebuah "program persatuan bagi masa depan Afganistan."

Sumber :
Ant