
ROMA, KOMPAS.com - Sebanyak 196 korban tewas dalam serangan tiga hari, 26-29 September, di sejumlah hotel mewah dan sebuah lembaga Yahudi di Mumbai. Dari jumlah korban tewas itu, sembilan orang di antaranya Yahudi. ”Kami akan memburu pelaku serangan,” kata Ehud Olmert, saat masih menjabat Perdana Menteri Israel, setelah serangan tersebut. Pelacakan jaringan dan jejak dari sejumlah orang yang dicurigai telah dilakukan dalam setahun terakhir. Salah satu hasilnya, polisi Italia pada Sabtu (21/11) menangkap dua warga Pakistan, yakni Mohammad Yaqub Janjua (60) dan putranya, Aamer Yaqub Janjua (31), di Brescia, sebuah kota di Italia, dekat Milan. Tuduhannya, bapak dan anak ini mentransfer uang yang tidak banyak, hanya sekitar Rp 2,1 juta. Akan tetapi, dana tersebut dipakai untuk membayari aktivasi sebuah jaringan di internet yang bisa membuat pengguna jaringan itu berkomunikasi lewat telepon. Jejak percakapan pun kemudian dilacak. Transfer dana itu dilakukan dengan nama palsu dengan tujuan ke Callphonex, yang dipakai untuk berkomunikasi, termasuk oleh 10 pria bersenjata pelaku serangan di Mumbai. Stefano Fonsi, Kepala Polisi Antiterorisme di Brescia, mengatakan, penangkapan dilakukan setelah pemantauan setahun menyusul masukan informasi dari intelijen AS dan India soal transfer. Bapak dan anak itu memiliki bisnis pengiriman uang, bekerja sama dengan Western Union. Mereka mengirimkan uang atas nama warga Spanyol keturunan Pakistan yang tidak tahu soal pelaksanaan transfer sebelum serangan. Lashkar e-Taiba (LeT), sebuah kelompok di Pakistan, menjadi tertuduh di balik serangan Mumbai. Kelompok ini dikenal pernah menggunakan warga Barat untuk melakukan serangan ke wilayah yang dianggap sebagai ”budak AS”. India dan Pakistan dikelompokkan sebagai ”budak AS”, terutama karena gencar memburu pejuang, termasuk pejuang Muslim Kashmir India. Sebelum penangkapan warga Pakistan di Italia, pada 3 Oktober lalu, polisi AS juga menangkap David Coleman Headley (49), warga AS keturunan Pakistan, putra dari seorang diplomat Pakistan dan wanita AS. Pada usia 16 tahun Headley menjadi warga AS. Harian Inggris, The Times, pada 21 November memberitakan, sebelum serangan di Mumbai, Headley menyamar sebagai seorang Yahudi dan menyewa apartemen di Mumbai beberapa bulan sebelum serangan. Daood Dilani, nama asli Headley, dikenal sebagai penyewa yang baik dan memperlakukan semua tetangga serta pesuruhnya dengan amat sopan. Ia mengaku sebagai seorang agen imigrasi di Mumbai di mana terdapat pusat Yahudi yang Setelah serangan 2008 itu, sepak terjang Headly dilacak agen intelijen AS. Dari situ diketahui ia bekerja untuk Harkat ul-Jihad al-Islami (Huji) dan LeT. Headley juga kemudian diketahui merencanakan serangan ke Jyllands-Posten, sebuah harian Denmark yang menghina umat Islam dengan kartun yang menghebohkan pada 2005 soal nabi. Pelacakan juga memperlihatkan Headley sudah sering berkunjung ke India dan Pakistan periode 2006 dan 2009. B Raman, seorang mantan anggota staf intelijen India, menegaskan, informasi ini harusnya membangunkan India karena ternyata rencana serangan telah disusun di sejumlah wilayah lain di India. New Delhi Television Limited (NDTV) menambahkan, pelacakan Headley juga terbongkar dari chatting di Yahoo antara Headley dan Tahawwur Hussain Rana, seorang warga Kanada keturunan Pakistan. Kedua orang ini pernah sama-sama memasuki sekolah militer di Pakistan pada masa muda sebelum hijrah ke AS dan Kanada. Rana juga memiliki bisnis imigrasi yang juga memiliki cabang di Chicago, AS. Perusahaan Rana membantu kelancaran perjalanan dan penyamaran Headley. Dengan bahasa Inggris beraksen Barat yang lancar, Headley juga meyakinkan relasinya bahwa ia seorang Yahudi, antara lain dengan membawa buku berjudul Cara Berdoa Ala Yahudi. Surat-surat elektronik Headley ke sejumlah pihak juga memperlihatkan berbagai pesan soal kode-kode serangan. Hasil pelacakan intelijen juga kemudian memperlihatkan peran Hafiz Mohammed Saeed, pendiri LeT. Saeed, yang juga piawai berkhotbah, sering meminta jemaahnya untuk berjalan di jalur yang benar. Timothy Roemer, Duta Besar AS untuk India, meminta tanggung jawab Pakistan untuk menangkap Saeed.