JAKARTA, KOMPAS.com — Pembicaraan pra-KTT Perubahan Iklim PBB (UNFCCC) yang berlangsung awal pekan ini di Kopenhagen, Denmark, masih tidak menunjukkan titik terang terhadap terciptanya kesepakatan baru pada Conference of the Parties (COP) 15, Desember mendatang. Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta mengaku kurang puas atas pembicaraan terakhir tersebut.
"Kita inginnya hasil yang lebih besar dari pertemuan di Bali (COP 13). Tapi sepertinya tidak akan terjadi. Amerika Serikat belum ada kemajuan," ujar Gusti pada jumpa pers sebelum Malam Anugerah Menuju Indonesia Hijau, Jumat (20/11) di Hotel Borobudur, Jakarta.
COP 13 di Bali pada tahun 2007 lalu menghasilkan Bali Roadmap yang memandatkan terciptanya kesepakatan baru pasca-berakhirnya Protokol Kyoto pada tahun 2012. Hambatan terbesar menjelang COP 15 di Kopenhagen adalah belum adanya komitmen target pengurangan emisi oleh negara maju, terutama Amerika Serikat. Akan tetapi, menurut Gusti, Indonesia terus memotivasi negara berkembang lainnya agar tetap berkomitmen untuk menurunkan emisinya.
"Meski Indonesia dan negara berkembang tidak wajib menurunkan emisi, kita terus memotivasi agar tetap sukarela untuk mengurangi tingkat emisinya," katanya.
Gusti menambahkan, Denmark sebagai tuan rumah menunjukkan spirit agar pertemuan COP 15 bisa menghasilkan kesepakatan, meski tak sebaik pertemuan di Bali. "Intinya, meski banyak yang meragukan hasilnya tidak sebaik di Bali, tetapi jangan sampai tidak ada hasil," ungkapnya.
Sebanyak empat fokus pembahasan pada COP 15 yaitu mitigasi, adaptasi, pembiayaan (financing), dan transfer teknologi. Untuk mendorong terciptanya hasil positif, pertemuan dan perundingan di tingkat menteri akan dimulai sejak tanggal 12 Desember. Diharapkan, waktu yang lebih panjang akan mendorong para negosiator untuk menghasilkan sebuah kesepakatan. Pertemuan Kopenhagen akan berlangsung pada 7-18 Desember 2009.


