WASHINGTON, KOMPAS.com — Menteri Pertambangan Afganistan Mohammad Ibrahim Adel dituduh menerima suap 30 juta dollar AS karena memberi proyek pembangunan besar kepada perusahaan negara milik China. Demikian dilaporkan surat kabar The Washington Post, Rabu (18/11), mengutip seorang pejabat AS.
Pengungkapan itu terjadi pada pekan yang sama ketika Pemerintah Afganistan membentuk satuan pemberantas korupsi, dan hanya sehari sebelum Hamid Karzai dilantik sebagai Presiden Afganistan untuk kedua kalinya.
Saat itu, AS mendesak Karzai agar membersihkan negaranya yang porak poranda akibat perang itu dari wabah korupsi dan kronisme.
The Washington Post mengutip seorang pejabat tanpa menyebutkan namanya, yang sangat mengetahui laporan-laporan intelijen militer. Menurutnya, ada kepastian besar mengenai tuduhan suap sekitar 30 juta dollar AS kepada Menteri Ibrahim Adel.
Menurut pejabat AS, suap itu terjadi di Dubai, Desember 2007, saat perusahaan China, Metallurgical Group Corp (MCC), mendapatkan kontrak senilai 2,9 miliar dollar AS.
MCC mendapat kontrak untuk mengeksploitasi cadangan tembaga Aynak, salah satu cadangan tembaga terbesar di dunia, di Provinsi Logar.
Tahun lalu, Adel mengatakan kepada AFP bahwa Aynak memproduksi lebih dari 11 juta ton tembaga senilai sekitar 88 miliar dollar AS.
"Diperkirakan, proyek akan memberikan pendapatan bea dan cukai kepada pemerintah sekitar 400 juta dollar AS per tahun," kata Adel.
Jika tuduhan suap ini terbukti, maka hal itu akan menjadi pukulan berat bagi Pemerintah Afganistan yang sedang berjuang menegakkan kredibilitas di antara penduduknya yang miskin itu.
Tambang adalah salah satu dari beberapa harapan cerah ekonomi di negara yang dirongrong oleh meningkatnya pemberontakan yang dipimpin Taliban itu.
"Afganistan memiliki sejumlah cadangan penting tembaga, besi, emas, minyak dan gas, serta batu bara. Itu juga mencakup batu permata, seperti zamrud dan rubi, yang sebagian besar belum ditambang," kata Adel.
Para pejabat Afganistan dan AS dilaporkan marah terhadap kontrak yang jatuh ke tangan MCC, dan melakukan komplain. Adel tidak memberikan kesepakatan kepada perusahaan-perusahaan Barat yang sedang bersaing, untuk mendapatkan peluang yang jujur.
Ketakutan terhadap korupsi terus tumbuh, apalagi kementerian saat ini menawarkan peninjauan kembali proyek besar tambang cadangan bijih besi, yang dikenal sebagai Haji Gak.
"Dalam proyek ini, MCC juga tampil sebagai perusahaan terdepan," kata The Washington Post.
Dalam wawancara dengan The Washington Post, Adel membantah telah menerima suap atau pembayaran tak resmi dalam tiga tahun masa jabatannya sebagai menteri.
Dia mengatakan, paket kompensasi MCC, termasuk pembayaran bonus sebesar 808 juta dollar AS kepada Kabul, adalah jauh lebih besar ketimbang bonus dari perusahaan-perusahaan lain.
"Saya bertanggung jawab atas pendapatan dan keuntungan terhadap rakyat kami. Seumur hidup, saya patuh terhadap hukum dan peraturan demi kepentingan rakyat," kata Adel.
Para pejabat AS dan Afganistan telah memperingatkan bahwa ketidakmampuan dan korupsi sangat ditakuti oleh para investor potensial yang ingin menginvestasikan bisnisnya di Afganistan.

