Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 06:04 WIB
Rudal Mata-mata AS Telan Sembilan Korban
Taufiq Zuhdi | tof | Kamis, 19 November 2009 | 06:24 WIB
|
Share:

AP Photo/Mohammad Sajjad
Polisi Pakistan tengah menjaga lokasi aksi bom bunuh diri di Peshawar, Pakistan, Sabtu (14/11). Terus meningkatnya eskalasi antara kelompok bersenjata Pakistan dan aparat memancing publik internasional untuk kembali menyorot pilar utama negara Pakistan, yakni Islam dan militer, yang pada masanya pernah erat berdampingan.

TERKAIT:

MIRANSHAH, KOMPAS.com - Sedikitnya empat gerilyawan tewas dan lima orang lagi terluka dalam serangan rudal oleh pesawat mata-mata AS di daerah suku Pakistan di dekat perbatasan Afganistan, Kamis.
    
Serangan itu terjadi di Desa Shanakhora di Waziristan Utara, daerah yang disebut Washington sebagai tempat gerilyawan bersembunyi dan merencanakan serangan terhadap tentara Barat yang ditempatkan di Afghanistan.

"Serangan pesawat mata-mata AS yang ditujukan ke sebuah kompleks gerilyawan itu menewaskan empat orang dan melukai lima orang yang lain," kata seorang pejabat senior keamanan di daerah itu kepada AFP.

Ia menambahkan dua rudal telah ditembakkan dari sebuah pesawat mata-mata AS. Seorang lagi pejabat keamanan memastikan serangan itu. "Kompleks itu digunakan oleh gerilyawan Taliban, tapi tidak jelas apakah ada gerilyawan asing atau sasaran bernilai tinggi," kata pejabat tersebut.
    
Beberapa warga di Miranshah, ibukota distrik suku Waziristan Utara, menyatakan mereka mendengar dua ledakan keras persis sebelum tengah malam. Serangan itu terjadi ketika serangan militer terus berlangsung di tetangganya, Waziristan Selatan.

Pakistan telah berjanji akan menundukkan Tehreek-e-Taliban di Waziristan Selatan, bagian daerah perbatasan dengan Afghanistan yang dianggap Washington sebagai tempat paling berbahaya di dunia karea mejadi persembunyian pejuang al Qaida dan Taliban.

Pakistan telah melancarkan serangan udara dan darat tersengitnya di wilayah itu pada 17 Oktober, dengan 30.000 tentara yang didukung oleh jet dan helikopter tempur untuk mengepung TTP. Pejabat militer mengatakan 550 gerilyawan dan 70 tentara telah tewas sejak serangan militer itu dimulai, tapi tidak ada dari kematian itu yang dapat dipastikan secara benar.

Sumber :
ANT,AFP