Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 14:39 WIB
Inggris Pun Kutuk Israel
Josephus Primus | primus | Rabu, 18 November 2009 | 22:34 WIB
|
Share:

Sebuah permukiman Yahudi ilegal ang dibangun sejak Februari 2008 di Eli Tepi Barat yang terdiri atas 27 rumah rakitan.

TERKAIT:

LONDON, KOMPAS.com - Inggris pada Selasa (17/11) mengutuk lampu hijau Israel untuk ratusan rumah baru dibangun di wilayah caplokan Jerusalem timur. Inggris menyatakan itu membuat kesepakatan perdamaian lebih sulit.
   
Menteri Luar Negeri David Miliband mengatakan "sangat jelas bahwa kesepakatan terpercaya melibatkan Yerusalem sebagai ibu kota bersama", kata perempuan juru bicara, sesudah kementerian dalam negeri Israel menyetujui pembangunan 900 rumah baru di Gilo.
   
"Memperluas permukiman di tanah caplokan di Yerusalem timur membuat kesepakatan jauh lebih sulit. Oleh sebab itu, keputusan ini salah dan kami menentangnya," tambah perempuan juru bicara Kementerian Luar Negeri itu.
   
Gilo adalah satu di antara selusin permukiman Israel di wilayah berpenduduk pada umumnya bangsa Arab di Jerusalem timur.
   
Kementerian Dalam Negeri Israel menyatakan kegiatan itu masih dapat ditinjau kembali. Tapi, izin itu diduga kian menghalangi upaya tanpa hasil Amerika Serikat untuk membuat Israel dan Palestina kembali ke meja perdamaian, di tengah ketidaksepakatan mendalam tentang duri persoalan permukiman.
   
Palestina menuntut Israel membekukan semua pembangunan permukiman di wilayah dudukan Tepi Barat, termasuk di daerah caplokan Yerusalem timur, sebelum melanjutkan perundingan. Israel sejauh ini hanya menawarkan pngurangan sementara dan terbatas dalam pembangunan itu.
   
Arab Saudi pada Rabu menyatakan keputusan Israel membangun 900 rumah baru di Yerusalem timur Arab merupakan hambatan besar bagi usaha memulai kembali perundingan perdamaian Timur Tengah. "Kami merasa permukiman adalah hambatan besar dalam usaha perdamaian di Yerusalem timur khususnya," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, Osama Nugali, kepada kantor berita Perancis AFP ketika ditanya tentang keputusan Israel pada Selasa untuk memperluas permukiman Gilo di Jerusalem timur, yang dicaplok negara Yahudi itu.
   
"Jika tidak ada tindakan tegas sehubungan dengan kebijakan itu, sangat sulit memajukan upaya perdamaian tersebut," kata Nugali.
   
Arab Saudi, negara kuat di kawasan Timur Tengah, menegaskan bahwa Israel harus membekukan semua perluasan permukiman di Tepi Barat sebelum pihaknya membantu menghidupkan kembali perundingan perdamaian Palestina dengan Israel.
   
Pada awal tahun ini, Saudi menolak permintaan Israel dan Washington untuk memberikan isyarat nyata niat baik --satu saran adalah mengizinkan terbang pesawat Israel di wilayah udaranya-- untuk mengajak Israel ke perundingan perdamaian.
   
Riyadh mendukung sikap Palestina bahwa Palestina tidak dapat mengikuti setiap perundingan perdamaian selama Israel memperluas permukiman.
   
Israel memicu percekcokan baru dengan Amerika Serikat mengenai pembangunan permukiman buat orang Yahudi di Tepi Barat itu, yang didudukinya dalam perang 1967 dan dicaplok ke kotapraja Yerusalem-nya.
   
Harian Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa utusan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, George Mitchell, minta pembantu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam pertemuan di London menghalangi pembangunan itu. Namun, panitia perencanaan pemerintah menyetujui tambahan 900 rumah di Gilo, tempat 40.000 orang Israel sudah tinggal di sana.
   
Keputusan Israel tersebut mengundang kemarahan tak biasa dari Gedung Putih, yang menyatakan itu mencemaskan, dan menuduh Israel merusak upaya Obama melanjutkan pembicaraan perdamaian dengan Palestina, yang macet sejak Desember.

Sumber :
Ant