Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 00:40 WIB
Pejuang Palestina Tembakan Roket ke Israel
Egidius Patnistik | wsn | Rabu, 18 November 2009 | 13:41 WIB
|
Share:

AFP/JAAFAR ASHTIYEH
Pemuda Palestina yang membawa bendera melemparkan batu ke arah pasukan keamanan Israel di pagar pemisah kontroversial di Desa Deir Al-Ghson dekat Tulkarem, Tepi Barat, Sabtu (14/11). Menurut catatan PBB, Israel telah selesai memagari 413 km dari rencana 709 km wilayah sekitar Tepi Barat di tanah yang menurut pihak Palestina bakal tempat berdirinya negara Palestina.

TERKAIT:

YERUSALEM, KOMPAS.com — Para pejuang Palestina di Jalur Gaza yang dikuasai Hamas menembakkan sebuah roket ke Israel selatan, Rabu (18/11), tetapi tidak menimbulkan korban dan kerusakan.

Menurut pihak militer Israel, roket itu mendarat di luar kota Sderot, yang telah dihajar oleh ribuan roket dari Gaza dalam beberapa tahun belakangan ini. Menurut perhitungan militer Israel, lebih kurang 270 roket dan bom mortir telah ditembakkan ke Israel sejak akhir serangan Israel terhadap Jalur Gaza yang dikuasai Hamas, tahun lalu.

Israel telah memicu percekcokan baru dengan Washington terkait dengan pembangunan permukiman, Selasa. Israel menyetujui pembuatan 900 unit rumah buat orang Yahudi di Tepi Barat Sungai Jordan, yang didudukinya dalam perang 1967.

Harian Israel Yedioth Ahronoth melaporkan, utusan Presiden Barack Obama, George Mitchell, telah meminta seorang pembantu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam pertemuan di London, Senin, untuk menghalangi pembangunan yang diusulkan di permukiman Gilo. Namun, satu komisi perencanaan pemerintah menyetujui tambahan 900 rumah di Gilo, yang saat ini telah ditempati 40.000 orang Israel.

Keputusan Israel itu mengundang kemarahan yang tak biasa dari Gedung Putih, yang menyatakan itu mencemaskan dan menuduh Israel merusak upaya Obama dalam melanjutkan pembicaraan perdamaian dengan Palestina, yang macet sejak Desember. "Pada saat kami berusaha meluncurkan kembali perundingan, semua tindakan ini membuatnya jadi lebih sulit bagi berbagai upaya untuk mencapai keberhasilan," kata pejabat pers Gedung Putih, Robert Gibbs.

Sumber :
ANT