KHARTOUM, SENIN -
Mereka menyiapkan 30 penerbangan khusus dari Aljazair dengan tarif spesial bagi suporter, yakni sekitar 200 dollar AS untuk tiket pergi-pulang, seperempat dari harga tiket normal. Menurut Direktur Eksekutif Air Algerie Abdelouahid Bouabdallah, suporter pemesan tiket penerbangan khusus yang beruntung akan dibebaskan dari biaya membeli tiket pertandingan dan ongkos visa masuk Sudan.
Warga Sudan sendiri terbelah antara kelompok pendukung Mesir dan Aljazair. Mereka antusias menyambut kedatangan tim Aljazair dan Mesir, Minggu lalu.
”Satu, dua, di mana juara Afrika,” teriak sekelompok orang Mesir yang menunggu berjam- jam menjelang kedatangan tim Mesir di bandara Khartoum. Ribuan pekerja asal Mesir yang mencari nafkah di Sudan
Tidak mau kalah dengan pendukung Mesir, bendera-bendera Aljazair juga berkibar dari balik mobil-mobil warga Sudan.
Aljazair dan Mesir harus bertanding lagi dalam partai
Menurut Federasi Sepak Bola Sudan, selaku tuan rumah, mereka tidak menyiapkan langkah- langkah pengamanan khusus bagi laga di stadion berkapasitas 40.000 penonton itu. ”Langkah- langkah pengamanan akan sama seperti untuk laga-laga internasional lainnya,” kata pejabat Federasi Sepak Bola Sudan.
Kekalahan Aljazair itu memicu kericuhan dan munculnya sentimen anti-Mesir di ibu kota Aljazair. Suporter Aljazair berusaha menjarah kantor maskapai Mesir, Egypt Air. Kantor perusahaan telepon seluler Mesir, anggota grup telekomunikasi ”Orascom”, juga dijebol massa.
Perusahaan itu menyebutkan, salah satu pegawai mereka juga diserang di bandara Algiers. Kericuhan juga meledak di kalangan komunitas Aljazair di beberapa kota Perancis, seperti di Grenoble, Lyon, dan Marseille.
Akibat kericuhan itu, Kementerian Luar Negeri Mesir meminta duta besar Aljazair agar meningkatkan pengamanan bagi warga Mesir di Aljazair. Hal itu sama seperti yang diminta pihak Aljazair kepada Pemerintah Mesir saat bus tim Aljazair dilempari warga Mesir dengan batu, membuat tiga pemain mereka luka.
Di Mesir, kericuhan terjadi seusai laga. Sebanyak 20 dari 32 warga yang terluka dalam kericuhan itu adalah warga Aljazair. Situasi ini mengingatkan peristiwa 1989 saat Mesir mengalahkan Aljazair di Kairo. Seorang pemain Aljazair diadili dan dipenjara karena melukai dokter tim Mesir.
