Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 04:58 WIB
Lee: Jangan Biarkan Korut Langgar Satu Inci Pun
Egidius Patnistik | made | Senin, 16 November 2009 | 17:58 WIB
|
Share:

AP PHOTO/AHN YOUNG-JOON
Sejumlah anggota keluarga Korea Selatan berpotret di depan monumen kenangan Perang Korea di Museum Memorial Perang Korea di Seoul, Korsel, Jumat (13/11). Korut telah mengirim pesan peringatan keras, Jumat, bahwa mereka akan mempertahankan diri mati-matian setelah kejadian bentrok senjata di batas laut Korut-Korsel di Laut Kuning. Pengiriman pesan itu hanya beberapa hari menjelang kunjungan Presiden AS Barack Obama ke Korsel.

TERKAIT:

SEOUL, KOMPAS.com — Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak menegaskan kepada militer Korsel, Senin (16/11), untuk tidak membiarkan Korea Utara melanggar perbatasan satu inci pun. Ketegangan di antara kedua Korea itu terus berlangsung setelah bentrokan angkatan laut pekan lalu.

Militer tetap dalam siaga tinggi setelah baku tembak di dekat perbatasan Laut Kuning yang disengketakan, yang dikenal sebagai Garis Perbatasan Utara (NLL) pada 10 November lalu. Letjen Hwang Joong-sun, yang ditempatkan di Kementerian Pertahanan, mengemukakan kepada parlemen bahwa Korea Utara (Korut) telah memperkuat pangkalan-pangkalan artileri, kekuatan udara, dan angkatan lautnya di sepanjang perbatasan Laut Kuning.

"Garis perbatasan gencatan senjata, NLL di timur dan barat, ruang angkasa kita harus dipertahankan tanpa dapat dikalahkan dan tanpa satu inci pun dilanggar," kata Lee dalam sepucuk surat kepada angkatan bersenjata, yang disiarkan surat kabar Korean Defence Daily yang dikelola pemerintah.

"Hanya apabila keamanan kuat, ekonomi kita dapat pulih lebih cepat. Sementara itu, perdamaian, pertukaran, dan rekonsiliasi di semenanjung Korea dapat cepat terwujud," katanya.

Korea Selatan (Korsel) pekan lalu mengirim satu kapal perusak dan dua kapal patroli lagi ke daerah itu setelah bentrokan senjata tersebut. Peristiwa ini merupakan peristiwa baku tembak pertama dalam tujuh tahun terakhir. Para pejabat Seoul mengatakan, sebuah kapal patroli Korut terbakar setelah diserang Angkatan Laut Korsel. Media lokal melaporkan seorang pelaut Korut tewas dan tiga lainnya cedera.

Korut menolak untuk mengakui NLL yang ditetapkan Komando PBB setelah Perang Korea tahun 1950-1953. Mereka juga menuntut garis perbatasan dimundurkan lebih jauh ke selatan. Korut, Jumat lalu, memperingatkan Korsel bahwa pihaknya akan melakukan aksi militer tanpa ampun untuk menjaga garis perbatasan yang ditetapkannya sendiri itu.

Sumber :
ANT