Mengapa kesepakatan global mengenai perubahan iklim penting? Karena kita perlu menyelamatkan bumi ini untuk generasi berikutnya...Kesepakatan bersama akan mengikat kita untuk mencegah dampak yang lebih buruk atas peningkatan gas rumah kaca. Jangan biarkan bumi ini semakin "memanas"!
KOMPAS.com - Konferensi para pihak (COP) 15 yang merupakan bagian dari konvensi PBB soal perubahan iklim, akan digelar di Kopenhagen, Denmark pada 7-18 Desember mendatang. Pertemuan negara-negara sedunia ini akan membahas langkah bersama menghadapi dampak perubahan iklim yang diprediksi semakin memburuk. COP15 Kopenhagen punya makna penting. Di sini akan ditentukan sebuah kesepakatan global baru pengganti Protokol Kyoto. Kesepakatan ini diharapkan lebih mengikat negara-negara untuk bertanggungjawab atas penurunan emisinya. Soal tarik menarik kepentingan, biar menjadi urusan pengambil kebijakan. Tetapi, anak muda juga punya kepentingan. Apa yang akan mereka suarakan?
British Council, melalui program International Climate Champions (ICC) akan mengirimkan puluhan jawara muda dari berbagai negara ke forum tingkat dunia itu. Diharapkan, suara kaum muda ini bisa didengar oleh penentu keputusan.
Dari Indonesia, akan berangkat seorang climate champions asal Garut, Jawa Barat, Goris Mustaqim bersama wartawan Kompas.com, Inggried Dwi Wedhaswary. Keduanya tak pergi tanpa misi. Pesan apa yang mereka bawa?
"Pesan yang akan dibawa adalah 'From Bali to Copenhagen'. Mengapa? Karena COP13 terakhir diselenggarakan di Bali tahun 2007 yang menghasilkan Bali Roadmap," ujar Goris.
COP13 di Nusa Dua Bali, memang memiliki relasi penting dengan konvensi tahun ini. Hasil dari COP13, Bali Roadmap yang menjadi peta jalan bagi kesepakatan baru, telah memandatkan agar COP15 menghasilkan draft protokol pengganti Protokol Kyoto yang akan berakhir tahun 2012 mendatang.
"Kita, anak-anak muda tidak akan terjebak dengan kepentingan politik yang pasti sangat kental dalam forum itu. Tapi, apa yang kami sampaikan nanti semoga bisa dijadikan masukan karena bagaimanapun juga, anak-anak muda lah yang akan menjadi penerus ke depannya," papar Goris, alumni Institut Teknologi Bandung.
Oleh karena itu, Goris dan Inggried yang akan bergabung dengan delegasi berbagai negara dalam "Green Journey to Copenhagen" akan lepas landas menuju London, Inggris pada 2 Desember. Disana, mereka akan bergerak menuju Brussel, Belgia dan meneruskan perjalanan ke Kopenhagen dengan menggunakan kereta api "Climate Express". Sepanjang perjalanan, anak muda dari berbagai belahan dunia ini akan melakukan berbagai aktivitas, terutaman menyosialisasikan dampak perubahan iklim yang mengancam kehidupan manusia. Para champions juga akan berbagi cerita mengenai berbagai kegiatan yang dilakukan di negaranya.
Sepanjang konferensi berlangsung, puluhan anak muda ini juga akan menggelar berbagai kegiatan, seperti diskusi, debat, dan melakukan interaksi dengan para delegasi berbagai negara yang melakukan negosiasi perundingan. Apa harapan mereka?
"Kita berharap, kesepakatan baru yang lebih mengikat akan lahir. Inilah saatnya mencatat sejarah. Either you are with us or against us. Semoga, di sana nanti juga ada kesempatan untuk tampil menyuarakan Asian's Youth Voice. Sekarang, tengah berdiskusi jarak jauh dengan teman-teman sesama delegasi Asia," ujar mereka.
COP15 diharapkan bisa merumuskan target negara-negara maju untuk menurunkan emisi karbondioksidanya dan menghasilkan kesepakatan yang lebih berkeadilan bagi seluruh negara, masyarakat dan kelestarian alam.
Cerita "Green Journey to Copenhagen" yang dilakoni Goris dan apa saja yang dilakukan oleh anak muda utusan British Council di COP15 akan dihadirkan Kompas.com. Anda pun bisa menyampaikan pesan yang bisa menjadi masukan bagi Goris untuk disuarakan di forum tingkat dunia tersebut. Menyelamatkan bumi, tugas kita semua!
