Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 03:26 WIB
Presiden Sri Lanka Tunda Pengumuman Pemilu
Taufiq Zuhdi | tof | Senin, 16 November 2009 | 03:17 WIB
|
Share:

AP PHOTO
Penduduk sipil etnik Tamil di Srilanka yang melarikan diri dari zona perang, Rabu (22/4), sedang untuk mendapatkan makanan di kamp transit yang dikontrol pemerintah di Omantai, Vavuniya, sekitar 230 kilometer sebelah utara Kolombo.

TERKAIT:

KOLOMBO, KOMPAS.com - Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapakse meminta waktu lagi kepada para pendukungnya untuk mengumumkan tanggal pemilihan umum, setelah ia mendapat pesaing tidak terduga dari pimpinan pemimpin militernya.

Dalam pertemuan tahunan Partai Kebebasan Sri Lanka kemarin, Rajapakse menyatakan bahwa ia menginginkan waktu lebih banyak untuk berunding dengan pimpinan partai mengenai pemilu tersebut. Ia sebelumnya telah diharapkan mengumumkan jadwal pemungutan suara pada konvensi tersebut.

"Kalian tampaknya ingin pemilihan presiden sebelum pemilihan parlemen," kata Rajapakse pada pertemuan partai yang disiarkan televisi secara nasional itu. "Saya akan memberi tahu (para pemimpin) partai dan kalian akan tahu pada saatnya."

Pemerintah sebelumnya mengumumkan bahwa pemilihan presiden akan diadakan sebelum April, meski masa tugas Rajapakse akan berakhir pada November 2012. Partai berkuasa ingin memanfaatkan keberhasilan militer dalam mengalahkan pemberontak Macan Tamil pada Mei.

Namun, jendral utama yang memimpin operasi militer yang berhasil itu sejak itu berselisih dengan Rajapakase dan ingin menantangnya dalam pemilihan presiden sebagai calon dari oposisi gabungan. Panglima militer Jendral Sarath Fonseka mengundurkan diri pekan lalu setelah menuduh pemerintah melakukan korupsi dan gagal mencapai perdamaian dengan minoritas Tamil setelah militer mengalahkan kelompok separatis Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE).

Pemerintah Sri Lanka pada 18 Mei mengumumkan berakhirnya konflik puluhan tahun dengan Macan Tamil setelah pasukan menumpas sisa-sisa kekuatan pemberontak tersebut dan membunuh pemimpin mereka, Velupillai Prabhakaran.

Pernyataan Kolombo itu menandai berakhirnya salah satu konflik etnik paling lama dan brutal di Asia yang menewaskan puluhan ribu orang dalam berbagai pertempuran, serangan bunuh diri, pemboman dan pembunuhan.

Sumber :
ANT,AFP