ABUJA, KOMPAS. com - Presiden Nigeria Umaru Yar’Adua kembali melakukan pembicaraan terbuka dengan sejumlah tokoh gerilya dalam upaya mengakhiri konflik di kawasan Delta Nigeria. Yar’Adua bertemu dengan para mantan pemimpin Gerakan bagi Emansipasi Delta Niger (MEND), kelompok pemberontak utama di kawasan tersebut.
Olusegun Adeniyi, juru bicara Yar’Adua, mengatakan, pembicaraan pada Sabtu lalu itu membuahkan hasil. Presiden menggunakan pertemuan tersebut untuk menegaskan lagi komitmennya bagi perdamaian menyeluruh dan pembangunan Delta Niger.
Penulis pemenang Hadiah Nobel, Wole Soyinka, juga mengambil bagian dalam pembicaraan tersebut, kata Adeniyi.
Wakil MEND pada pertemuan, Henry Okah et Farah Dagogo mengatakan, pembicaraan dua jam itu terbuka, bersahabat dan bermanfaat. "Pertemuan ini menyoroti awal dialog yang serius, bermanfaat antara MEND dan pemerintah Nigeria untuk menangani dan mengatasi permasalahan utama yang telah lama terbengkalai," katanya.
Pada Juni lalu, Yar’Adua juga melakukan salah satu upaya paling serius untuk mengendalikan kerusuhan yang membuat Nigeria gagal memproduksi lebih dari duapertiga kapasitas minyaknya, sehingga negara itu rugi miliaran dolar. Ia menawarkan amnesti tanpa syarat kepada gerilyawan.
Lebih dari 15.000 gerilyawan di daerah penghasil minyak Delta Niger dikabarkan telah menyerahkan senjata mereka dan menerima pengampunan tanpa syarat berdasarkan program presiden tersebut. Program amnesti tawaran Yar’Adua yang diberlakukan dari 6 Agustus hingga 4 Oktober itu bertujuan melucuti senjata militan, mendidik dan merehabilitasi militan dan penjahat di Delta Niger.
Sebagai bagian dari upaya amnesti itu, pemerintah pada 13 Juli membebaskan Henry Okah, seorang pemimpin MEND, setelah tuduhan terhadapnya dibatalkan. MEND menanggapi langkah itu dengan mengumumkan gencatan senjata 60 hari dalam perang minyak mereka.
Gerakan bagi Emansipasi Delta Niger (MEND) adalah kelompok paling lengkap persenjataannya di antara sejumlah kelompok pemberontak yang beroperasi di wilayah selatan penghasil minyak. MEND telah mendesak semua perusahaan minyak yang masih beroperasi di Delta Niger segera pergi, dengan mengancam melancarkan serangan-serangan baru.