TEHERAN, KOMPAS.com - Seorang ulama Muslim Sunni di kota Zahedan, Moulavi Abdolghani, ditangkap aparat setempat karena diduga memiliki hubungan dengan kelompok Sunni garis keras. Namun tidak jelas apa alasan penangkapan tersebut.
Situs kelompok reformis, Norooznews mengabarkan, Moulavi Abdolghani yang sehari-hari menjadi imam salat Jumat di Zahedan, ditangkap pada hari Kamis (12/11). "Menyusul pemanggilan ke Pengadilan Ulama Khusus di kota Mashhad, Abdolghani ditangkap dan dikirim ke penjara Kamis," kata laporan itu.
Situs Internet itu tidak menyebutkan apa tuduhan terhadapnya. Pernyataan dari pejabat terkait penangkapan itu juga tidak ada.
Kelompok Sunni garis keras kerap menuduh pemerintah melakukan diskriminasi terhadap mereka. Belum lama ini mereka menyatakan berada di belakang serangan 18 Oktober yang menewaskan lebih dari 40 orang Iran, termasuk 15 anggota pasukan elit Garda Revolusi.
Media Iran menyatakan kelompok itu mengaku bertanggungjawab atas pemboman Mei di sebuah masjid di Sistan-Baluchestan yang menewaskan 25 orang. Satu anggota kelompok itu telah digantung awal bulan ini, meskipun tidak jelas apakah ia dituduh punya peran dalam serangan Oktober, yang merupakan insiden paling mematikan di Iran sejak 1980-an.
Iran, negara yang sebagian besar penduduknya Muslim Syiah dengan minoritas Sunni, menuduh Pakistan, Inggris dan AS telah mendukung kelompok gerilyawan Sunni itu. London, Washington dan Islamabad semuanya membantah keterlibatan mereka dalam serangan bulan lalu. Iran menolak tuduhan oleh kelompok hak asasi manusia Barat bahwa negara itu telah melakukan diskriminasi terhadap etnik dan agama minoritas.


