SEOUL, KOMPAS.com- Sebuah kapal kargo Korea Utara (Korut) memasuki perairan Korea Selatan (Korsel), Sabtu (14/11), di tengah ketegangan yang meninggi antara kedua negara terkait masalah perbatasan laut.
Masuknya kapal kargo itu merupakan tanda bahwa perdangangan antara dua negara tidak terpengaruh olah bentrokan antara kapal perang dua negara empat hari lalu serta ketegangan yang terjadi setelahnya.
Kapal itu membuang sauh di sebelah barat Seoul hanya sehari setelah militer Korut mengancam akan melakukan aksi militer "tanpa ampun" untuk melindungi perbatasan lautnya dengan Korea Selatan di Laut Kuning. Pyongyang juga memperingatkan Seoul agar membayar kerugian untuk terjadinya bentrokan angkatan laut di masa depan. Korea Utara menolak mengakui garis batas laut yang ditetapkan oleh PBB setelah perang 1950-1953.
Pada bentrokan empat hari lalu itu, media lokal di Korsel memberitakan bahwa seorang pelaut Korut tewas dan tiga lainnya cedera dalam baku tembak gencar tapi singkat itu.
Seorang jurubicara Menteri Unifikasi Korsel mengatakan, kedua Korea tidak melakukan pembatasan terhadap perdagangan. Kapal kargo Korut itu mengangkut silika (kerikil) untuk sebuah perusahan Korsel. Kapal itu melewati daerah perairan yang disengketakan.
Menurut petugas di otoritas pelabuhan, kapal itu dijadwalkan memasuki pelabuhan Incheon, Senin lusa.
Sementara menurut jurubicara Menteri Unifikasi, Chun Hae-sung, keputusan untuk mengizinkan kapal Korut itu memasuki perairan Korsel sudah dibuat sebelum bentrokan terjadi pada empat hari lalu itu. Berdasarkan data pihak otoritas pelabuhan, kapal-kapal Korut telah 35 kali berlabuh di pelabuahan itu dalam sembilan bulan pertama tahun ini.
Korsel merupakan partner perdagangan nomor dua Korut, dengan volume perdagangan mencapai 1,1 miliar dollar AS hanya dalam sembilan bulan pertama tahun ini.


