SEOUL, KOMPAS.com - Korea Selatan, Sabtu (14/11), memerintahkan militernya siaga tinggi setelah Korea Utara berikrar akan melakukan tindakan tanpa ampun menyusul bentrokan angkatan laut dua negara itu empat hari lalu.
"Kami masih dalam keadaan siaga tinggi menghadapi kemungkinan provokasi Korea Utara," kata seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel.
Namun demikian, sejauh ini tidak ada tanda-tanda gerakan yang tidak biasa yang dilakukan Korea Utara. Menteri Pertahanan Kim Tae-Young, Jumat, mengatakan, Korea Utara diduga akan menggencarkan lagi aksi provokatif militernya sebagai balasan bentrokan Selasa, yang menyebabkan satu kapal patroli Korea Utara terbakar.
Sumber-sumber yang dikutip media lokal mengatakan, seorang pelaut Korea Utara tewas dan tiga lainnya cedera dalam baku tembak gencar tapi singkat itu. "Kami siap sepenuhnya untuk menghadapi aksi-aksi provokatif. Kami akan hadapi Korea Utara dari dekat," kata Kim, seperti yang dikutip oleh kantor berita Yonhap.
Korea Selatan telah mengirim satu kapal perusak untuk memperkuat keamanan daerah perbatasan lautnya, selain dua kapal patroli tambahan. Namun dikatakan, pihaknya tidak ingin bentrok. Korea Selatan juga menginstruksikan para komandan angkatan darat, laut, dan udara untuk meningkatkan pengawasan di daerah-daerah perbatasan, dan merespon secepat mungkin terhadap adanya provokasi.
Korea Utara, Jumat, berikrar akan melakukan aksi militer "tanpa ampun" untuk melindungi perbatasan lautnya di Laut Kuning dengan Korea Selatan. Pyongyang juga memperingatkan Seoul harus membayar kerugian untuk terjadinya bentrokan angkatan laut di masa depan. Korea Utara menolak mengakui garis batas laut yang ditetapkan oleh PBB setelah perang 1950-1953.
Peringatan terbaru itu terjadi hanya beberapa hari sebelum kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Ibu Kota Negeri Ginseng itu untuk berbicara dengan para pemimpin Korea Selatan yang diperkirakan akan difokuskan pada program nuklir Pyongyang.


