TOKYO, KOMPAS.com — Presiden AS Barack Obama menegaskan, negaranya tidak berusaha menahan kemajuan China. Kemunculan China justru memperkuat keamanan dan kesejahteraan dunia.
"AS tidak berusaha menahan kemajuan China, tapi justru memperdalam hubungan dengan China mengingat lemahnya hubungan kedua negara. Sebaliknya, meningkatnya kekuatan dan kemakmuran China bisa jadi sumber kekuatan bagi masyarakat bangsa-bangsa," kata Obama dalam pidato mengenai kebijakan luar negeri utama AS, di Tokyo, Jepang, Sabtu (14/11).
Obama mengatakan, dia tidak akan ragu-ragu untuk mengajukan masalah-masalah hak asasi manusia (HAM) dengan China, tetapi akan melakukannya tanpa kebencian. "AS tidak pernah akan ragu-ragu untuk membicarakan hal itu demi nilai-nilai dasar yang kami anut, dan yang juga mencakup penghormatan terhadap agama dan kebudayaan semua bangsa. Menski demikian, kami bisa saja membahas masalah ini mendatang dalam semangat kemitraan ketimbang kebencian," kata Obama.
Dia berbicara di Tokyo pada saat mengakhiri kunjungan dua harinya ke Jepang yang merupakan lawatan pertamanya ke Asia sebelum dia menuju ke Singapura. Di Singapura, Obama akan menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), yang dilanjutkan dengan kunjungan ke China dan Korea Selatan.
Di Singapura juga dia dijadwalkan akan bertemu dengan Perdana Menteri Myanmar, Thein Sein, dan para pemimpin 10 negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) lainnya. Ini adalah pertemuan pertama mereka secara kolektif dengan Presiden AS.
ASEAN beranggotakan Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, Brunei, Laos, Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. Pertemuan itu akan menjadi yang pertama dalam 43 tahun seorang Presiden AS melakukan pertemuan dengan seorang pemimpin Myanmar.
