LONDON, KOMPAS. com - Ford (AS) dengan produksi 3,7 juta unit berada di tempat ketiga. Toyota hanya berhasil memproduksi 4 juta unit. Posisi General Motors menurun ke urutan keempat dengan jumlah produksi mendekati 3,7 juta unit. Demikian hasil data yang diolah dan disampaikan harian Inggris, Guardian, Rabu (11/11), berdasarkan data dari IHS Global Insight. Akan tetapi, belum dapat dipastikan juga hingga berapa lama VW-Porsche akan memegang mahkota juara pertama ini. Masalahnya, sebagian besar penjualan dan produksi VW didukung program insentif pemerintah di Uni Eropa bagi rakyatnya untuk membeli mobil. Beberapa jenis program insentif saat ini sudah berakhir. Menurut IHS Global Insight, keputusan VW mendirikan pabrik di Chattanooga, Tennessee, AS, menambah bulat keputusan Toyota untuk mengurangi produksi hingga seperempat pada kuartal pertama 2009. Jaringan VW-Porsche di AS ini bisa meraih kembali pasar AS, yang direbut Toyota empat dekade lalu. Sementara itu, media Jepang memberitakan Toyota menutup 300 dealer di Jepang dalam jangka waktu tiga tahun ke depan. Toyota memiliki 4.000 dealer di seluruh Jepang. Perusahaan otomotif itu juga memperkirakan akan merugi selama dua tahun berturut-turut pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2010. VW menjadi produsen otomotif terbesar setelah bergabung dengan Porsche. Namun, harga sahamnya di bursa Eropa, Kamis (12/11), turun hingga 8 persen pada pertengahan perdagangan bahkan sempat turun 13 persen menjadi 8,53 euro per unit. Pasalnya, salah satu pemegang saham VW, yakni Pemerintah Qatar, melepaskan sahamnya. Penurunan harga saham VW mendorong indeks harga saham di bursa Frankfurt, Jerman, melemah 0,12 persen. Qatar Holdings (QH) menjual 25 juta unit saham untuk mengambil kesempatan meraih untung. Akan tetapi, Qatar menambahkan, tetap punya komitmen dengan mempertahankan investasi kepada VW. Negara pengekspor gas alam cair terbesar di dunia itu meningkatkan investasi di VW-Porsche tahun ini. Sebuah sumber mengatakan, Qatar berhasil meraup dana 750 juta euro dari penjualan saham VW tersebut. ”Qatar tahu kapan mengambil keuntungan,” ujar John Sfakianakis, ekonom kepala pada Banque Saudi Fransi-Credit Agricole.


