KOMPAS
Senin, 22 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
Seumur Hidup untuk Pembunuh "Syuhada Jilbab"
Kamis, 12 November 2009 | 16:32 WIB
AFP
Alex Wiens menggunakan penutup wajah dan dikawal petugas
TERKAIT:

DRESDEN, KOMPAS.com — Seorang pria rasis dihukum seumur hidup kemarin karena melakukan pembunuhan brutal di ruang pengadilan terhadap perempuan berjilbab yang dijuluki "syuhada jilbab".

Alex Wiens (28) dihukum di ruang pengadilan yang sama di Dresden, Jerman, tempat ia membunuh Marwa El-Sherbini dan janin dalam kandungannya, Juli lalu. Wiens, warga Jerman asal Rusia, menancapkan pisau dapur enam inci setidaknya 16 kali ke Sherbini (31) yang saat itu sedang hamil tiga bulan.

Putranya, Mustafa (3), melihat ibunya mengalami pendarahan hingga akhirnya tewas di tempat kejadian. Suaminya, Elwy Okaz yang merupakan ahli ilmu genetika asal Mesir, bergegas untuk membantunya. Namun, Okaz juga ditikam berkali-kali oleh Wiens serta ditembak lengannya oleh seorang penjaga yang mengira dia merupakan pelaku penyerangan.

Wiens, yang dikelilingi empat petugas keamanan saat putusan dibacakan, juga dinyatakan bersalah atas percobaan pembunuhan yang menyebakan luka terhadap Okaz. Wiens menutup wajahnya dengan kaca mata hitam, balaclava (penutup wajah dari kepala hingga leher), dan jaket bertopi selama persidangan berlangsung. Dia tidak mau berkomentar terhadap putusan yang dijatuhkan terhadapnya.

Kasus pembunuhan itu mendapat reaksi yang lambat dari politisi dan media Jerman, tetapi tidak demikian di negera asal Sherbini, dan sejumlah negara Muslim lain. Dia menjadi terkenal di dunia Arab dengan sebutan "syuhada jilbab".

Dalam persidangan terungkap bagaimana serangan berbau rasis dari Wiens terhadap Sherbini itu terjadi di sebuah taman di kota Dresden setahun sebelumnya, yang memicu pembunuhan mengerikan itu. Ketika itu, Sherbini yang berkunjung ke taman publik kota itu meminta Wiens untuk mengosongkan ayunan yang ia duduki sehingga anaknya bisa menggunakan ayunan tersebut.

Bukannya mengosongkan ayunan, Wiens malah mengumpat ke Sherbini dengan sebutan "pelacur Muslim", "teroris", dan banyak kata hinaan lain. Polisi akhirnya datang dan menahan Wiens.

Ia kemudian didenda, tetapi mengajukan banding atas hukuman 750 poundsterling pada sidang pengadilan Juli. Pada waktu itulah, dia akhirnya menghabisi Sherbini sesaat setelah Sherbini keluar dari bilik saksi. Ketika itu, Sherbini memberikan kesaksian untuk melawan Wiens.

Jaksa penunut mengatakan, Wiens didorong oleh "suatu kebencian yang tidak terkendalikan terhadap orang asing". Dalam sebuah pernyataan yang dibacakan pembelanya, Wiens mengakui bahwa dia memusuhi orang asing. Namun, dia membatah bahwa itu merupakan motif serangannya terhadap Sherbini.

Pada menit-menit terakhir sebelum perkara diputuskan, sebuah dokumen tiba-tiba muncul dari Rusia. Dokumen itu menunjukkan bahwa Wiens telah dinyatakan tidak cocok untuk tugas militer tahun 2001 karena menderita skizofrenia terdiferensiasi. Pembelanya mengatakan, penikaman itu tidak direncakan dan Wiens selalu membawa sebuah pisau dalam tas punggungnya. Kondisi psikologis itu mestinya dapat mengurangi hukuman itu.

Kantor pengadilan tidak dijaga ketat ketika pembunuhan terjadi, tetapi pengamanan maksimum terjadi selama pengadilan Wiens. Sejumlah penembak jitu ditempatkan, dan sekitar 200 polisi menjaga kawasan itu setiap kali persidangan.

Duta Besar Mesir untuk Jerman menerima putusan itu dengan mengatakan, "Keadilan telah ditegakkan".

Penulis: EGP   |   Editor: primus   |   Sumber :daily mail Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.