Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 22:19 WIB
Menlu RI-Australia Cari Solusi Bersama
| jimbon | Rabu, 11 November 2009 | 05:49 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com - Keberadaan 78 pencari suaka dari Sri Lanka di kapal Oceanic Viking, di perairan Pulau Bintan, Tanjung Pinang, menjadi satu agenda utama Australia-Indonesia. Untuk menyikapi kasus ini, Menlu RI Marty Natalegawa dan Menlu Australia Stephen Smith mengadakan pertemuan di Singapura, Rabu (11/11) ini.

Juru bicara Deplu RI, Teuku Faizasyah, mengatakan itu di Jakarta, Selasa (10/11). ”Menlu Australia baru pulang dari Sri Lanka,” kata Teuku Faizasyah yang ketika dihubungi sedang bersiap-siap terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Changi, Singapura, Selasa petang.

Dia juga meluruskan berita sebelumnya yang menyebutkan, izin perpanjangan kedua untuk Kapal Oceanic Viking berakhir Jumat pekan ini, 13 November, (Kompas, 10/11). Dia mengatakan, ”Saya tidak sebutkan itu. Kita hanya mengharapkan ada pemecahan sebelum Jumat ini,” katanya menjelaskan.

Sebelumnya, Direktur Keamanan Diplomatik Deplu RI Sudjatmiko dalam jumlah pers di Hotel Confort Tanjung Pinang, Kamis (5/11), mengatakan, Indonesia memperpanjang izin keamanan (security clearance) Ocenanic Viking, hingga Jumat, 13 Maret. Indonesia ingin membantu Australia menangani masalah imigran gelap. Perpanjangan itu merupakan yang terakhir.

Ketika ditanya, kira-kira apa yang menjadi inti pertemuan antara Menlu RI dan Menlu Australia di Singapura, Faizasyah mengatakan, belum mau mengandai-andai. Pada prinsipnya, Indonesia ingin mendengar apa penjelasan Australia atas keberadaan Oceanic Viking serta ke-78 pencari suaka dari Sri Lanka yang masih bertahan di kapal itu.

Bagaimana kalau Australia tidak mau menerima para pengungsi, apakah Indonesia masih terus memperpanjang izin sandar Oceanic Viking? Atas pertanyaan itu, Faizasyah tetap mengatakan belum mau menjelaskan karena pertemuan untuk membahas masalah itu akan dilaksanakan di Singapura hari Rabu ini.

Indonesia tetap berharap solusi terbaiklah yang dicapai dalam mengatasi masalah imigran gelap atau pencari suaka itu. Pada hari Senin (9/11), Faizasyah mengatakan, Indonesia lebih mengutamakan misi kemanusiaan.

Dilaporkan sebelumnya, ke-78 warga Sri Lanka itu ditangkap, patroli Angkatan Laut Australia yang menggunakan kapal HMS Armidale, 18 Oktober. Setelah penangkapan itu, para imigran dipindahkan ke kapal Oceanic Viking saat berada di sekitar 240 mil barat Padang. (FER/CAL)

Sumber :
Kompas Cetak