CARACAS, KOMPAS.com Pemerintahan Presiden Kolombia Alvaro Uribe akhir pekan lalu marah, ketika Presiden Venezuela Hugo Chavez meminta angkatan daratnya bersiap perang dan mengajak seluruh rakyat Venezuela membela tanah airnya. Chavez sebelumnya menuduh Uribe, yang bersekutu dengan AS, mengizinkan akses kepada tentara AS untuk menggunakan basis-basis militer Kolombia, sebagai persiapan untuk menginvasi Venezuela. Kolombia membantah tuduhan-tuduhan Chavez, dengan mengatakan bahwa perjanjian militernya dengan AS dikhususkan untuk memerangi para penyelundup obat bius dan gerilyawan sayap kiri. Pemerintah Uribe mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) untuk menelaah ”ancaman-ancaman perang” yang disampaikan Chavez. Meskipun membuat hubungan kedua negara semakin panas, banyak pengamat meyakini, pertikaian itu tidak akan sampai menyebabkan perang. Akan tetapi, perbatasan kedua negara yang panjangnya 2.000 km akan terus tegang karena kedua pihak telah mengirimkan tambahan tentaranya ke perbatasan dan telah menyebabkan penurunan tajam perdagangan bilateral Venezuela-Kolombia yang mencapai 7,0 miliar dollar AS. Pernyataan dari kementerian luar negeri Venezuela, Senin, menyebutkan bahwa posisi pemerintahan Uribe ”tidak bermoral” dan ”menunjukkan hipokrisi dari oligarki Kolombia”. Mengacu pada serbuan militer Kolombia pada tahun 2008 ke wilayah Ekuador, Venezuela menambahkan, ”Pemerintahan Uribe bohong dan bertanggung jawab atas tindakan perang sepihak dalam sejarah terbaru benua kita.” Venezuela menegaskan, akses yang diberikan kepada militer AS untuk menggunakan basis militer Kolombia mengancam perdamaian dan stabilitas kawasan. Sejumlah pengamat Chavez memanas-manasi isu Kolombia itu untuk menutupi masalah-masalah domestik, seperti tingginya inflasi dan rusaknya pelayanan listrik serta air untuk warga. ”Presiden Chavez akan terus menggunakan semua peluang untuk memelihara ketegangan diplomatik, dan menaikkan isu adanya hantu musuh asing, untuk mengalihkan perhatian publik dari distorsi-distorsi pertumbuhan ekonomi Venezuela,” jelas analis dari EurasiaGroup, Patrick Esteruelas. Dengan membidik pemilihan parlemen pada September 2010, Esteruelas menambahkan, Chavez mungkin juga mulai mengupayakan ”dikobarkannya sentimen nasionalisme”. Keyakinan tidak akan terjadinya perang juga disampaikan sejumlah warga Venezuela. ”Ketika saya di militer pada usia 17 tahun, mereka mengatakan kepada saya agar berlatih untuk perang dengan Kolombia. Sekarang saya 67 tahun, dan mereka tetap mengatakan hal nonsense yang sama,” kata Enrique Torres, pensiunan instruktur pendidik fisik Angkatan Darat Venezuela. Sebaliknya, sejumlah diplomat dan analis mengatakan, Uribe kemungkinan malah mendapatkan keuntungan dari keributan itu untuk memperkuat popularitasnya dan kemungkinan terpilih kembali pada pemilu tahun depan.