SEOUL, KOMPAS.com -
Kepastian adanya insiden itu disampaikan para pejabat Korea Selatan (Korsel) di Seoul, hari Selasa. Kepala Staf Gabungan Korsel Brigadir Jenderal Lee Ki-sik melaporkan, dalam kontak senjata itu petugas patroli Korut melepaskan 50 tembakan, 15 tembakan di antaranya menghantam kapal patroli AL Korsel. Namun, dia tidak menyebutkan petugasnya melepas berapa kali tembakan balasan.
Lee menjelaskan, kontak senjata terjadi dalam jarak 3.200 meter. Insiden itu pun terjadi di perairan Garis Batas Utara atau Northern Limited Line (NLL), yang pada tahun 1999 dan 2002 menjadi ajang bentrokan berdarah antara AL Korut dan Korsel.
Lee mengatakan, kapal patroli Korsel sempat mengirimkan beberapa sinyal peringatan setelah kapal Korut melintasi perbatasan, tetapi kapal malah terus menerobos. Setelah petugas patroli Korsel memberikan tembakan peringatan, malah langsung disambut tembakan balasan yang mengarah ke kapal Korsel.
Petugas patroli dari Korsel pun langsung melepaskan tembakan balasan untuk memaksa kapal Korut kembali ke utara. ”Memang tidak ada korban di pihak kami. Namun, kami tetap waspada terhadap provokasi yang mungkin muncul lagi,” katanya.
AL Korut bulan lalu menuduh Korsel telah mengirim kapal perang melintasi garis batas untuk memancing ketegangan. Korut juga mengatakan ”provokasi militer yang sembrono itu” dapat memicu bentrokan.
Lee mengatakan, Korut sudah 22 kali melanggar NLL tahun ini. Namun baru sekali ini, untuk pertama kalinya, Korsel melepaskan tembakan dan itu pun setelah kapal patroli Korut tidak mau mengindahkan lima sinyal peringatan yang dikirimkan oleh petugas kapal patroli Korsel.
Lee kemudian melanjutkan, ”Kami menyampaikan protes keras kami kepada Korut dan mendesak mereka untuk tidak mengulanginya.”
Presiden Korsel Lee Myung-bak langsung menggelar rapat darurat dengan para menteri terkait keamanan nasional, termasuk Perdana Menteri Chung Un-chan. Presiden menuding petugas patroli Korut telah memprovokasi dan melakukan sebuah tembakan langsung yang sengaja ditujukan ke kapal patroli Korsel.
”Tidak ada kerusakan di pihak kami. Namun, kapal patroli Korut berlayar pulang menjauhi perbatasan dalam kondisi terbakar,” kata Chung kepada parlemen.
Chung juga mengatakan, kontak senjata yang terjadi setelah ada tawaran damai dari Korut itu justru amat mengejutkan. Dia juga mendesak rakyat tetap tenang dan tidak terpancing.
Beberapa analis mengatakan, bagaimanapun Pyongyang sepertinya hendak mengirim pesan kepada Presiden Barack Obama. Sebab insiden itu hanya terjadi delapan hari sebelum Obama tiba di Seoul, sebagai salah satu rangkaian lawatannya ke Asia.
Militer Korut mengatakan, pernyataan Korsel itu adalah bentuk pembelaan diri atas tindakan provokasi bersenjatanya yang sembrono. Dikatakan, kapal patroli Korsel melepaskan tembakan membabi buta karena kepergok berada di perairan utara, atau telah melewati garis batas.
Kim Yong-hyun, profesor Universitas Dongguk, mengatakan, insiden itu sengaja dilakukan Korut untuk meningkatkan ketegangan menjelang kunjungan Presiden Barack Obama.
”Saya percaya bahwa Korut hendak menunjukkan sebuah sikap tegas kepada Obama karena pendiriannya berubah-ubah atas semenanjung Korea. Korut telah menuntut pakta perdamaian ditandatangani dengan AS untuk menggantikan perjanjian gencatan senjata (yang berakhir pada perang Korea tahun 1950-1953).”


