KUPANG, KOMPAS.com — Sebanyak delapan nelayan asal Kelurahan Oesapa, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ditangkap pada 4 November lalu, kini ditahan di Darwin, Australia. "Delapan nelayan yang ditangkap, kini ditahan di Darwin. Jadi yang ditangkap hanya delapan orang, bukan sembilan orang," kata Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) VII Kupang Laksamana Pertama Amri Husaini di Kupang, Selasa (10/11).
Pernyataan Amri Husaini tersebut terkait dengan penangkapan sejumlah nelayan oleh Angkatan Laut Australia di wilayah perairan Indonesia pada titik koordinat 11,37 LS-124,27 BT pada 4 November lalu. Nelayan yang ditangkap dan ditahan tersebut termasuk nakhoda kapal Gab Oma bersama tujuh awak perahu.
Dia mengatakan, Lantamal VII Kupang telah melakukan koordinasi dengan "Comnor-com" (Komando Utara Angkatan Bersenjata Australia). Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, jelasnya, "Comnor-com" mengatakan, penangkapan dilakukan setelah mendapati nelayan menangkap teripang di perairan kontinental Australia, di mana di perairan tersebut dilarang untuk menangkap teripang.
Dia mengaku, lokasi penangkapan nelayan berada di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia, tetapi perairan tersebut merupakan perairan kontinental Australia. "Nelayan tahu bahwa di perairan itu dilarang menangkap teripang. Namun, nelayan masih nekat menangkap teripang di situ," katanya.
Saat penangkapan dilakukan oleh kapal patroli AL Australia "Albani 86", lanjutnya, terdapat empat kapal nelayan Indonesia di perairan tersebut, tetapi tiga kapal dilepas, sedangkan satu kapal, yakni Nirwana, ditahan karena ditemukan sebanyak 80 kilogram (kg) teripang dalam kapal itu. "Pihak Australia akan menyerahkan rekaman penangkapan nelayan tersebut ke Lantamal VII Kupang," katanya.
Dia menambahkan, pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan Konsul Indonesia di Darwin untuk menangani kasus tersebut dan berharap agar para nelayan yang ditahan segera diproses oleh pemerintah Australia dan segera dipulangkan ke Indonesia. "Kami berharap mereka cepat diproses dan dipulangkan kembali ke keluarganya di Kupang," katanya.


