
TOKYO, KOMPAS.com — Japan Airlines (JAL) mengatakan pada Senin (9/11) bahwa para eksekutifnya tidak akan dibayar pada Desember karena perusahaan penerbangan yang sedang berkemelut itu ingin mengurangi biaya dalam upaya mencegah kerugian perusahaan yang lebih besar.
Langkah tersebut akan dialami pimpinan JAL, Haruka Nishimatsu dan 70 pejabat lain di perusahaan itu. Demikian dikatakan juru bicara untuk penerbangan tersebut.
Menurutnya, JAL juga ingin menghapus pembayaran bonus untuk 17.000 non-pekerja eksekutif meskipun keputusan formal belum dibuat. "Sejak para pemegang saham mempertanyakan modal mereka, kami harus berusaha mengurangi biaya," kata juru bicara tersebut.
JAL, maskapai penerbangan terbesar di Asia yang terlilit utang itu, mencoba untuk merehabilitasi perusahaan dengan dukungan badan perubahan haluan korporasi yang didukung pemerintah. Perusahaan itu berencana mengurangi ribuan karyawan dan mengurangi jalur-jalur yang merugi.
Tidak seperti para pesaing Amerika Serikat mereka, para pejabat Jepang sebagian besar menghindari perselisihan seputar pembayaran korporasi selama pelemahan ekonomi dengan menurunkan gaji mereka dan mengorbankan finansial lain.
Nishimatsu kini menggunakan bus ke tempat kerja dan mengantre bersama para pekerja lain untuk makan siang di kantin perusahaan tersebut.