KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Waduh... Jika Menangis Tianna Bisa Meninggal
Selasa, 10 November 2009 | 10:23 WIB

LONDON, KOMPAS.com — Sepintas tak ada yang berbeda dengan Tianna Lewis McHugh. Layaknya bocah berusia dua tahun, dia senang bermain dan tertawa. Namun, jangan sampai Tianna menangis mengingat akibatnya yang sangat fatal. Dia bisa meninggal jika menangis.

Sebenarnya wajar jika seorang balita menangis, tapi tidak dengan Tianna. Dia menderita reflex anoxic seizure (RAS), yaitu hanya dengan menangis bisa memicu kematiannya. Saat mengalaminya, kulit Tianna berubah menjadi putih, tubuhnya mengeras, jantungnya berhenti berdetak, dan berhenti bernapas.

Orangtua Tianna, Ceri Lewis dan Andy McHugh, harus berjuang setiap hari agar putrinya tidak menangis. Ibu Tianna, Ceri (23), histeris ketika mengetahui kondisi putrinya untuk pertama kalinya.

“Saya mengangkatnya dari kursi tinggi miliknya dan meletakkannya di lantai. Dia menangis beberapa detik lalu terlihat seperti meninggal,” kenang Ceri.

Menurut wanita yang tinggal di kawasan Wrexham, North Wales, ini, putrinya berubah putih keabu-abuan seperti mayat, bibir dan matanya berwarna biru. Tak hanya itu, bola mata Tianna membelalak dan berputar ke arah belakang.

“Saat serangan terjadi, dia berhenti bernapas dan terlihat seperti telah meninggal. Badannya kaku dan punggungnya melengkung. Saat itu saya mengira dia telah meninggal,” kata Ceri yang berprofesi sebagai resepsionis hotel ini.

Ayah Tianna, Andy (30), bergegas pulang ketika mendengar kondisi kritis yang dialami putrinya. Andy mencoba memberikan napas buatan melalui hidung dan mulut Tianna.

“Setelah lima atau enam tiupan, dia bisa menghela napas panjang. Air mata terlihat keluar dari bola matanya,” ujar Andy.

Tianna pun segera dilarikan ke unit gawat darurat di Rumah Sakit Wrexham Maelor. Sayang, tim dokter yang menanganinya saat itu gagal mencari penyebab penyakit aneh yang dialami Tianna.

Empat malam berikutnya, serangan yang sama kembali menimpa Tianna. Kali ini jangka waktunya lebih lama, dua jam. Tianna harus berjuang melawan maut sendirian. Beruntung, orangtuanya sangat sigap. Mereka segera membawa putrinya ke rumah sakit.

Dokter mengingatkan Ceri dan Andy, jika mereka tidak segera datang dalam waktu 10 menit, Tianna bisa meninggal atau mengalami kerusakan otak. Untungnya dia bisa melewati hal itu dan sembuh setelah dirawat selama empat hari di ruang perawatan anak-anak.

Melalui serangkaian diagnosis dan perawatan, Tianna divonis mengalami RAS. RAS bisa disebabkan berbagai hal. Seperti rasa terkejut, takut, ataupun rasa sakit. Bahkan, terkena air yang sangat dingin ataupun panas bisa memicu terjadinya RAS.

Tianna didiagnosis saat berusia 18 bulan dan hingga saat ini dia telah mengalami 10 kali serangan. Serangan paling lama dialaminya selama dua jam. Serangan terakhir dialami bulan Juli kemarin. Baik Andy maupun Ceri berharap putrinya bisa lepas dari kondisi tersebut.

“Ketika dia mulai menangis, biasanya kami memercikkan air di wajahnya agar dia bisa keluar dari shock yang dialaminya.” kata Andy.

Andy menuturkan, putrinya bisa melakukan segala hal yang diinginkannya. Namun, selama 18 bulan, dia dan istrinya berusaha keras agar Tianna tidak terluka atau terkejut yang menyebabkan dia menangis.

“Dia bidadari kecil kami dan kondisi ini membuat kami terus memerhatikannya. Dia sangat aktif dan senang berbicara. Dia akan tumbuh sesuai usianya,” tutur Andy. (mail/nau/tis)

Editor: hertanto   |   Sumber :Surya Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.