Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 05:42 WIB
NATO Klaim Tewaskan 130 Tentara Taliban
Taufiq Zuhdi | tof | Selasa, 10 November 2009 | 02:13 WIB
|
Share:

AP Photo/Musadeq Sadeq
Seorang tentara Afganistan berdiri di dekat burka yang digunakan oleh seorang pengebom bunuh diri di Gardez, ibu kota Provinsi Paktia, di timur Kabul, Selasa (21/7). Taliban melakukan sejumlah serangan ke kompleks gedung pemerintah dan pangkalan militer AS dengan bom, senapan, dan roket.

TERKAIT:

AFGANISTAN, KOMPAS.com - Afganistan benar-benar menjadi ladang pambantaian. Silih berganti pihak-pihak yang bertempur mengklaim telah menghabisi lawan-lawannya. Senin (9/11), para pejabat NATO dan Afghanistan menyatakan, telah membunuh sedikitnya 130 gerilyawan Taliban dalam operasi besar selama sepekan terakhir di sebuah wilayah di bagian utara Afghanistan, tempat aktivitas gerilyawan meningkat.

Juru bicara NATO Letnan Kolonel Todd Vician mengatakan, pasukan gabungan yang terdiri dari 700 tentara Afganistan dan 50 tentara NATO itu telah membersihkan sejumlah desa gerilyawan, menewaskan lebih dari 130 gerilyawan termasuk delapan komandan Taliban dalam operasi lima hari itu.

Gubernur Provinsi Kunduz, Mohammad Omar menjelaskan pada Reuters, pasukan gabungan itu telah membunuh 133 gerilyawan di sekitar distrik Char Dara di Kunduz. Namun, juru bicara Taliban, Zabibullah Mujahid menyatakan hanya lima gerilyawan yang tewas, dan menyebut korban tewas yang diberikan oleh para pejabat Afghanistan dan NATO itu sebagai propaganda.

Pasukan pimpinan-NATO telah mengerahkan serangan udara terhadap gerilyawan bersenjata. Mereka yakin tidak ada warga sipil di antara orang-orang yang tewas itu, termasuk juha tentara NATO atau Afganistan.

Distrik Char Dara adalah tempat insiden paling mematikan yang melibatkan tentara Jerman sejak Perang Dunia II. Pada awal September, seorang pejabat Jerman yang memerintahkan serangan udara AS menyatakan telah menewaskan 30 warga sipil dan juga 69 gerilyawan.

Jerman untuk pertama kalinya mengakui bahwa sejumlah warga sipil telah tewas dalam serangan udara itu, akibat prosedur yang tidak diikuti dengan benar. "Serangan udara itu untuk mencegah serangan bunuh diri oleh gerilyawan yang mencuri trek bahan bakar," kata pejabat Jerman.

Sumber :
Ant, Reuters