KILLEN, KOMPAS.com - Psikiater Angkatan Darat Amerika Serikat, Mayor Nidal Malik Hasan (30), Kamis (5/11), mengamuk dengan menembakkan dua senjata api di dalam kompleks Markas AD Fort Hood, Texas. Akibatnya, 12 prajurit AD tewas di tempat dan 31 prajurit luka-luka.
Nidal Hasan sendiri kemudian ditembaki oleh beberapa prajurit, tetapi masih hidup.
”Penyelidikan kami terus berjalan, tetapi laporan awal mengindikasikan bahwa pelakunya hanya satu orang. Si penembak tidak tewas, tetapi dalam penahanan dengan kondisi yang stabil,” ungkap Komandan Markas AD Fort Hood Letnan Jenderal Robert Cone.
Psikiater AD itu bertugas merawat para prajurit yang mengalami trauma psikologis akibat pertempuran di luar negeri untuk disiapkan bertugas kembali di negara lain.
Ditanya apakah penembakan itu merupakan tindakan terorisme, Cone mengatakan, ”Dia tidak menyampingkan hal itu, tetapi bukti-bukti tidak mengarah ke situ.”
AD mengatakan, Hasan melakukan penembakan sekitar pukul 14.30 waktu setempat, Kamis, di Pusat Pemrosesan Kesiapan Prajurit, sebuah unit yang melakukan penyelidikan medis para prajurit sebelum dikirim untuk penugasan di luar AS.
Cone mengatakan, si penembak memiliki dua senjata, salah satunya semiotomatis. ”Tidak ada indikasi senjata itu milik militer,” jelasnya.
Peristiwa itu merupakan pembunuhan terburuk yang pernah dilaporkan di sebuah markas militer AS. Pada Mei tahun ini juga, seorang prajurit AS yang ditempatkan di sebuah markas di Baghdad melakukan penembakan dan menewaskan lima prajurit, yang juga rekannya.
Cone menjelaskan, ketika penembakan mulai dilakukan, sebuah acara wisuda kelulusan tengah diselenggarakan di sebuah auditorium berjarak 50 meter dari tempat penembakan.
”Terima kasih atas reaksi cepat beberapa prajurit, yang bisa menutup pintu ke auditorium itu, ada 600 orang di dalamnya,” papar Cone. Ia juga menjelaskan bahwa menurut aturan, prajurit tidak diperbolehkan membawa senjata ke dalam markas, kecuali petugas keamanan dan polisi militer di markas itu.
Terkait penempatan
Sepupu tersangka penembak, Nader Hasan, kepada Fox News, mengatakan, Nidal Malik Hasan telah mendapat perintah untuk bertugas di Irak atau Afganistan. Dia menolak penempatan tersebut.
Nader menambahkan, saudaranya itu adalah warga Muslim yang lahir di AS dan telah bergabung dengan militer sejak sekolah lanjutan atas. Dia bertugas sebagai psikiater di Pusat Medis AS Walter Reed, di Washington DC, yang menangani banyak prajurit yang menderita luka-luka dan berusaha membantu mereka untuk mengatasi trauma yang dialaminya. Nidal dipindahkan ke Fort Hood pada April lalu dan menolak dikirim ke Irak.
Harian Washington Post menyebutkan, Hasan adalah lulusan Virginia Tech University pada tahun 1997. Dia kemudian mendapatkan gelar doktor di bidang psikologi dari Uniformed Services University of The Health Sciences di Bethesda. Dia hidup sendiri dan belum mempunyai anak dan selama ini tidak menunjukkan mengalami masalah mental, saat diperiksa September lalu.
Insiden itu memunculkan pertanyaan baru mengenai kerusakan akibat pertempuran terus-menerus selama enam tahun di Irak dan hampir delapan tahun pertempuran di Afganistan.
Ada masalah dalam militer AS dan pribadi-pribadi prajurit. Banyak dari mereka yang harus berada di beberapa lapangan perang. Presiden AS Barack Obama di Washington menyebut peristiwa itu sebagai ”ledakan kekerasan yang menakutkan” dan berjanji menjawab semua pertanyaan terkait insiden mengerikan tersebut.
Fort Hood adalah markas bagi sekitar 50.000 tentara AD AS. Benteng yang dibangun pada tahun 1942 itu memiliki luas 878 kilometer persegi di tengah Texas. (AP/Reuters/OKI)

