KABUL, KOMPAS. com - Presiden Afghanistan Hamid Karzai memerintahkan penyelidikan atas kematian sembilan warganya dalam serangan roket di provinsi Helmand, Afghanistan Selatan. Karzai tidak menuduh pihak yang menembakkan roket tersebut, namun pasukan pimpinan NATO di Afghanistan mengatakan secara terpisah bahwa mereka meluncurkan sebuah roket di dekat Babaji ke arah sembilan orang yang diyakini terlibat dalam pemasangan bom.
"Presiden Hamid Karzai mengutuk keras serangan yang menewaskan sembilan orang sipil di Helmand," kata juru bicara kantor kepresidenan setempat.
Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO menyatakan, pihaknya masih menyelidiki laporan bahwa korban-korban yang tewas itu adalah warga sipil. "ISAF bisa mengonfirmasi satu serangan roket darat ke darat berlangsung di desa Babaji di Lashkar Gah terhadap kelompok sembilan orang yang diyakini terlibat dalam pemasangan peledak improvisasi (IED)," kata juru bicara ISAF.
"Pasukan ISAF tidak mengetahui keberadaan warga sipil di daerah itu pada saat serangan tersebut. Hanya mereka yang terlibat dalam pemasangan IED menjadi sasaran," kata ISAF dalam sebuah pernyataan mengenai insiden Rabu itu.
ISAF menanggapi dengan sangat serius semua tuduhan terpercaya mengenai jatuhnya korban sipil dan menyelidiki setiap tuduhan itu untuk menentukan fakta. "Jika ada warga sipil terluka karena tindakan kami, maka kami sangat menyesalkannya," katanya.
Jatuhnya korban sipil merupakan masalah yang sensitif di Afghanistan dan telah menjadi sumber ketegangan antara pemerintah Kabul dan pasukan asing yang membantu mereka memerangi Taliban. Sebagian besar warga sipil tewas selama serangan udara terhadap gerilyawan, namun beberapa orang juga terbunuh dalam penembakan langsung dari konvoi militer terhadap kendaraan sipil -- biasanya mereka disalahartikan sebagai penyerang bom bunuh diri.
Terdapat lebih dari 100.000 prajurit internasional, terutama dari AS, Inggris dan Kanada, yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang dikobarkan sisa-sisa Taliban.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
Serangan-serangan Taliban terhadap aparat keamanan Afghanistan serta pasukan asing meningkat dan puncak kekerasan terjadi hanya beberapa pekan menjelang pemilihan umum presiden dan dewan provinsi pada 20 Agustus.


