SUVA, KOMPAS.com — Pejabat Presiden Fiji, Ratu Epeli Nailatikau, Kamis (5/11), diambil sumpahnya sebagai kepala negara, di negara Pasifik yang dikuasai oleh militer itu. Nailatikau, mantan komandan militer yang menyarankan Perdana Menteri Vorege Bainimarama memilih dirinya sendiri melalui karier militernya, dipilih sebagai presiden setelah Ratu Josefa Iloilo pensiun pada akhir Juli lalu.
Presiden Nailatikau telah dipilih sebagai wakil presiden pada April, sepekan setelah Bainimarama membubarkan konstitusi, memecat pengadilan, dan memberlakukan peraturan-peraturan darurat termasuk penyensoran terhadap pers. Posisi presiden dan wakil presiden secara tradisi dipilih oleh Ketua Dewan Besar Fiji, segera setelah Bainimarama menumbangkan pemerintah terpilih pada kudeta 2006.
Nailatikau diambil sumpahnya di Wisma Negara oleh Ketua Mahkamah Anthony Gates, di ibu kota Suva, dalam suatu upacara yang dihadiri para pejabat militer, pejabat pemerintah, dan sejumlah diplomat. Australia dan Selandia Baru tidak hadir setelah Bainimarama pada hari Selasa mengusir utusan tinggi mereka berkaitan sanksi kunjungan terhadap pihak peradilan Fiji. Wellington dan Canberra, Rabu, juga mengusir kepala misi Fiji sebagai tindakan balasan.


