
Lokasi kejadian berada sekitar 650 kilometer di utara gugus Kepulauan Cocos, Samudra Hindia, atau di sebelah barat daya Banten, Pulau Jawa. Gugus kepulauan ini terdiri dari atol berbahaya, terutama bagi kapal yang tidak memiliki sarana modern. Pada Minggu malam, dari perahu itu terkirim sinyal bahaya. Otoritas Maritim Australia melanjutkannya ke sejumlah kapal yang berlayar di sekitar Cocos. Namun, dua kapal terdekat, kapal kargo Pioneer LNG dan kapal penangkap ikan Taiwan, baru bisa bergerak mencapai lokasi pada Senin siang. Pioneer tiba duluan dan langsung memberikan pertolongan. Dalam proses interaksi itu perahu tiba-tiba tenggelam sehingga lebih dari 20 orang hilang. Kepala Pertahanan Australia Angus Houston mengatakan, 17 orang selamat setelah berebut naik rakit yang dilemparkan awak kapal Pioneer. ”Ketika kapal pertama tiba, perahu masih ada. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba perahu terbalik dan tenggelam,” katanya. Australia telah mengerahkan sejumlah kapal laut dan pesawat terbang untuk mencari para korban hilang. Stephen Langford, Direktur Medis pada Royal Sebuah kapal kargo milik Angkatan Udara Australia dikerahkan ke lokasi. Mendagri Australia Brendan O’Connor mengatakan, untuk bisa mencapai lokasi perahu tenggelam, pesawat harus terbang berjam-jam lamanya. Petugas pesawat menemukan dua orang selamat. Rhianne Robson dari Otoritas Keamanan Laut Australia yang memimpin operasi pencarian mengatakan, kapal naas ini tenggelam di perairan Australia. Perdana Menteri Kevin Rudd mengingatkan, upaya pencarian sudah maksimal. Semua kekuatan regu penolong sudah dikerahkan. Tampaknya sulit sekali menemukan korban hilang. ”Kami telah berkoordinasi dengan kapal di sekitarnya untuk memberikan pertolongan,” kata Rudd. Belum ada keterangan apakah para korban itu termasuk bagian dari puluhan imigran gelap yang sebelumnya menaiki 35 perahu yang bertolak ke Australia beberapa waktu lalu. Para pencari suaka ke Australia tahun ini sudah mencapai 1.770 orang dan sebagian besar di antaranya dari Sri Lanka dan Afganistan. Brendan O’Connor mengatakan, pihak berwenang tidak tahu apakah perahu yang tenggelam itu membawa pencari suaka. Masalah ini merupakan subyek perdebatan sengit dalam negeri. ”Tujuan perjalanan mereka belum diketahui,” katanya. Petugas belum menginterogasi para korban yang selamat. ”Keselamatan penumpang harus diutamakan,” kata O’Connor. Jika tugas kemanusiaan itu selesai, Australia akan mendalami isu lain, termasuk soal pencari suaka. Terkait dengan 78 warga Sri Lanka yang ”dititipkan” Australia di Pulau Bintan, anggota DPR Siswono Yudo Husodo berkomentar. Dia menegaskan agar Pemerintah Indonesia membiarkan imigran gelap itu melanjutkan perjalanan ke negara tujuan dan tidak menampungnya di Indonesia. ”Kita tidak memiliki kewajiban untuk menampung. Setelah diberi bantuan makanan, obat, dan bahan bakar, kapal yang mengangkut imigran bisa melanjutkan perjalanan ke mana pun mereka mau,” kata Siswono. Siswono menengarai ada upaya menjadikan Republik Indonesia sebagai pengaman dan penampung imigran gelap agar tidak masuk ke wilayah Australia.