HANOI, KOMPAS.com - Topan Mirinae membawa angin kencang ke pesisir Vietnam bagian tengah serta hujan lebat ke daerah pertanian kopi, Senin (2/11). Topan mengganggu panen dan memaksa 80.000 orang mengungsi setelah menewaskan 16 orang dan menghancurkan ribuan rumah di Filipina.
Mirinae menumbangkan pepohonan saat mencapai daratan di Provinsi Binh Dinh dan Phue Yen, sebagaimana diberitakan televisi milik Pemerintah Vietnam. Lebih dari 8.000 orang telah dievakuasi sebelum topan tiba.
Mirinae menghantam Filipina dengan kekuatan lebih besar. Kekuatan topan melemah saat melintasi Laut China Selatan ke arah Vietnam walau tetap berbahaya.
Baik Vietnam maupun Filipina masih merasakan dampak topan Ketsana yang menyebabkan banjir terbesar dalam 40 tahun di Manila September lalu. Ketsana menewaskan 160 orang di Vietnam.
Akibat Mirinae, hujan turun di Daklak dan Lam Dong, dua provinsi penghasil kopi terbesar di Vietnam. Hal ini mengganggu pengeringan biji kopi oleh petani. Vietnam adalah negara kedua terbesar di dunia penghasil kopi setelah Brasil.
Panen memuncak pada akhir bulan ini. ”Angin kencang dan hujan lebat menghantam wilayah kami dua jam lalu,” kata seorang warga di kota Dalat, ibu kota Lam Dong.
Seorang warga di Provinsi Daklak mengatakan, hujan telah turun sejak Senin dini hari. ”Kalau hujan seperti ini berlangsung selama beberapa hari, para petani tidak akan bisa memetik biji kopi,” katanya.
Hujan terus-menerus akan mencegah petani mengeringkan biji kopi mereka, kata seorang pedagang kopi. ”Yang dikhawatirkan adalah kalau hujan berlangsung beberapa hari, para petani akan harus mengeringkan biji kopi dengan oven berbahan bakar kayu dan itu akan membuat biji kopi berwarna gelap,” kata penjual tersebut.
Biji kopi berwarna gelap dihitung sebagai cacat dalam ekspor kopi.
Biro Cuaca Nasional Vietnam meramalkan hujan akan terjadi dalam 24 jam mendatang sejak Senin di bagian selatan dari daerah kopi.
Topan melemah menjadi sebuah sistem tekanan rendah tropis dan bergerak ke arah Kamboja.
Nelayan hanyut
Sementara itu, pihak berwenang Filipina, Senin, melaporkan dua korban tewas lagi setelah Mirinae menghantam negara itu pada akhir pekan lalu. Dengan demikian, jumlah korban tewas menjadi 16 orang.
Dewan Koordinasi Bencana Nasional Filipina mengatakan, korban tewas itu sebagian besar karena tenggelam dan terjadi di daerah-daerah pinggiran kota di sebelah selatan Manila dan dua orang tewas di provinsi timur.
Pasukan keamanan dan tim darurat membersihkan jalan dari pohon-pohon yang tumbang, tumpukan batu-batu besar, dan lumpur.
Di Manila dan Pulau Luzon warga masih tanpa aliran listrik. ”Sebagian besar jalan terkubur tanah longsor atau terendam banjir,” kata Letkol Ernesto Torres, jubir badan bencana itu.
Dia mengatakan, sebagian besar korban tewas akibat tenggelam dalam banjir bandang. Seorang perempuan tua tewas ketika sebuah pohon tumbang menimpa rumahnya di daerah Bicol.
Mirinae yang membawa angin dan ombak besar telah menyengsarakan para nelayan. Puluhan kapal penangkap ikan hanyut dan 39 nelayan terseret arus ke laut. Untungnya para nelayan bisa berenang ke darat.(Reuters/AP/AFP/DI)
